Kota Banjarmasin

25 Sep 2009

KOMUNITAS DAN IDENTITAS ISLAM DALAM MASYARAKAT BANJAR

Oleh Zulfa Jamalie

(Pengurus Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempermasalahan berbagai hal yang telah dijelaskan tentang ungkapan Banjar adalah Islam, namun sekadar diskusi untuk mentradisikan sikap kritis dan mengembangkan daya nalar, dalam rangka menyambut dirgahayu kota Banjarmasin yang ke-483 tahun, 24 September 1526 - 24 September 2009.

Idwar Saleh (1986) menyatakan bahwa Banjar bukanlah sebutan atau nama sebuah suku, karena bukan kesatuan etnik, maknanya suku Banjar tidak ada. Menurut Idwar, yang ada hanyalah group atau kelompok besar yaitu, kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Banjar Pahuluan. Itulah sebabnya, Banjar bukan sebuah nama suku, tetapi nama kelompok masyarakat, yakni masyarakat Banjar.

Menurut J.J Rass (1968), bahwa Banjar adalah istilah untuk menunjukkan sekelompok orang yang tinggal di satu wilayah kampung yang dikenal sebagai Bandjarmasih, di muara Sungai Kuwin.

Pada prinsipnya, baik pendapat Idwar maupun Rass adalah sama, yakni menyatakan bahwa Banjar adalah satu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sekelompok orang yang tinggal di satu daerah, wilayah, atau kampung, bukan nama suku, sebagaimana suku-suku yang lain.

Berkenaan dengan penyebutan atau istilah Banjar sebagai nama masyarakat yang mendiami atau berasal dari daerah Banjar, ada beberapa hal menarik untuk dicermati dan dikaji ulang.

Pertama, istilah Banjar pada masa awalnya atau disandarkan pada beberapa sebutan (Patih Bandarmasih, pusat kerajaan Islam di Kuwin=Banjar, Banjar bagian dari muara sebuah daerah sungai dekat laut). Sebelum istilah Banjar dipakai, kuat kemungkinan istilah yang dipakai untuk mengatakan penduduk yang tinggal di daerah Banjarmasin dan sekitarnya dengan istilah Muara (muara sungai).

Kedua, istilah Banjar juga tidak berarti dominasi atau hegemoni orang Banjar terhadap suku yang lain, terutama suku Dayak. Sebab, baik istilah Banjar atau Dayak sendiri pada waktu itu belum dikenal. Harmonisasi kehidupan antar berbagai suku yang tinggal di kawasan Banjar berjalan dengan baik. Karena, yang dimaksudkan Banjar pada awalnya adalah nama kawasan, di situ tinggal orang-orang Melayu atau penduduk semula di bawahan pimpinan (Patih Masih atau Oloh Masih), orang-orang Biaju (Bakumpai). Setelah kerajaan Banjar berdiri maka penduduk kawasan tersebut bertambah banyak, terutama setelah orang-orang hulu sungai yang telah berimigrasi (penduduk kerajaan Daha) yang diyakini terdiri dari berbagai suku, suku Jawa, campuran jawa dengan suku Manyan, Ngaju, dan lain-lain.

Ketiga, ada semacam kebanggaan tersendiri bagi setiap orang (penduduk kerajaan, daerah kesultanan Banjar sendiri waktu itu cukup luas, dan meliputi sebagian Kal-Teng; Kapuas, Buntok, Tamiyang Layang, Muara Teweh, Puruk Cahu, Katingan), jika bisa bertempat tinggal atau memasuki kawasan Banjar, sebab Banjar menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi-sosial dan pusat kerajaan. Yang sudah barang tentu, keramaian, sarana atau fasilitas hidup lebih baik dari daerah lain. Sikap seperti ini bisa penulis rasakan pada teman-teman semasa kecil dulu ketika masih tinggal di kawasan Banua Ampat. Mereka bangga menyebut dan apalagi jika bisa pergi ke Banjarmasin.

Lalu, bagaimana kaitannya dengan Islam? Ketika R. Samudera atau Sultan Suriansyah menerima dan memproklamasikan Islam sebagai agama resmi Kerajaan Banjar, ada semacam hegemoni dan justifikasi yang sepertinya benar. Dikatakan bahwa ketika itu semua orang yang tinggal di kawasan Banjar wajib atau paling tidak memeluk agama Islam, sehingga mereka yang tidak beragama Islam tidak disebut sebagai orang Banjar. Rekaman sejarah ini melahirkan statement bahwa seakan-akan orang Banjar wajib beragama Islam, apabila tidak beragama Islam maka ia bukan orang Banjar. Idwar Saleh menyatakan, Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan yang sebagian besar merupakan atau berasal dari orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Permaslahan menarik dalam konteks ini adalah, bagaimana sebenarnya relasi antara masuknya Islam dengan istilah Banjar?

Pertama, agama Islam masuk dan diterima oleh masyarakat Banjar (yang mendiami kawasan Banjar dan terdiri dari berbagai suku) secara aman dan damai, tidak ada paksaan. Memang, mereka yang masuk Islam kemudian menyatakan dirinya sebagai orang Banjar, karena mengikuti seruan dari Raja Banjar), tetapi bukan berarti berarti bahwa mereka yang tidak mau masuk Islam disebut sebagai bukan orang Banjar.

Kedua, sebutan sebagai orang Banjar memang kemudian menjadi popular seiring dengan makin banyaknya orang-orang yang menyatakan dirinya masuk atau memeluk agama Islam. Bolehlah dikata istilah ini menjadi semacam simbol, artinya, masuk Islam sama dengan masuk Banjar. Sedang waktu itu masuk Banjar dan menjadi penduduk yang tinggal di kawasan Banjar, kemudian mengikuti gaya hidup orang Banjar menjadi semacam kebanggaan.

Ketiga, tidak semua penduduk kerajaan waktu itu menyatakan diri mereka masuk Islam. Penduduk kerajaan yang jauh tempat tinggal dari pusat kerajaan, misalnya mereka yang berasal dari daerah hulu sungai, kawasan pegunungan meratus, diyakini juga belum menerima seruan itu. Di sinilah kemudian mulai berjalan aktivitas dakwah untuk menyeru orang masuk Islam dari beberapa orang juru dakwah, seperti Khatib Dayyan, H. Abdurrahman Solo, Haji Batu (angkatan pertama), diteruskan lagi oleh angkatan berikutnya; Datu sanggul, Datu Kandangan Haji, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.

Keempat, masalahnya, apakah dengan tidak mengikuti seruan atau agama sebagian besar orang-orang yang tinggal di kawasan Banjar dan agama Raja Banjar, mereka jadi terkucilkan atau terpinggirkan? Jawabnya tidak, mereka tetap bisa hidup berdampingan secara damai, dan tetap memakai atribut asal mereka. Walaupun, penulis berkeyakinan bahwa pada waktu itu orang Biaju, Ngaju, Maanyan sudah ada yang memeluk agama Islam. Orang Biaju, Ngaju, Maanyan yang tinggal di kawasan Banjar kemudian lebih sering dan keterusan disebut sebagai orang Banjar, sedangkan mereka yang tinggal di luar kawasan Banjar tetap disebut sebagai orang Biaju, Ngaju, atau Maanyan. Kita tentu ingat bahwa sultan yang memerintah kerajaan Banjar sendiri, di antaranya ada yang berdarah Biaju, Ngaju atau Maanyan. Begitu juga para pembesar istana dan bangsawannya.

Kelima, istilah atau sebutan orang Dayak adalah istilah baru yang diperkenalkan oleh para pendatang (missionaris Eropa) untuk menggambarkan atau menyebut orang-orang Kalimantan yang tinggal di pedalaman atau pegunungan. Sebelumnya, sebagaimana yang dapat kita simak dalam Hikajat Bandjar tidak pernah sekalipun disebut istilah atau etnis Dayak, yang sering disebut adalah istilah Biadju (Rass, 1968).

Berdasarkan uraian di atas, maka, bolehkah orang Banjar tidak beragama Islam? Atau orang yang dilahirkan di Tanah Banjar tidak beragama Islam mengakui dirinya sebagai orang Banjar? Jawabnya, terserah anda. Walaupun, ada pernyataan bahwa orang Banjar (sebagai orang Melayu) adalah orang Islam, dan apabila tidak Islam maka tidak termasuk atau dikatakan sebagai orang Banjar. Selamat Dirgahayu Kota Banjarmasin!


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post