Kudeta Banjar

14 May 2010

121
KUDETA DI TANAH BANJAR DAN KITAB SABIL AL-MUHTADIN
Oleh Zulfa Jamalie
(Pengurus Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)
Kudeta adalah salah satu bagian dari sejarah kelam Kerajaan Banjar yang menarik untuk dikaji. Jika diruntut, maka kudeta merebut kekuasaan secara paksa itu sudah dimulai ketika awal berdirinya Kerajaan Dipa di Amuntai dengan ditaklukkannya daerah bekas Kerajaan Nan Sarunai oleh Empu Djatmika. Peristiwa ini tampaknya menjadi sebuah kutukan yang akan terus terjadi dan membayangi perkembangan Kerajaan Banjar berikutnya. Bambang Padmaraga dan Bambang Sukmaraga dibunuh oleh Lambung Mangkurat sebelum berhasil menyunting Putri Junjung Buih karena keengganan Lambung Mangkurat melihat mereka menjadi Raja Banjar. Masa akhir Kerajaan Daha ditandai dengan terbunuhnya Pangeran Mangkubumi bin Maharaja Sukarama yang dikudeta oleh saudaranya sendiri Pangerang Tumenggung bin Maharaja Sukarama, yang kemudian berperang dan akhirnya menyerahkan tahta kerajaan kepada kemenakannya, R. Samudera bin Pangeran Mangkubumi bin Maharaja Sukarama pada tahun 1526 M.
Pangeran Adipati Anom bin Sultan Inayatullah yang bergelar Sultan Agung atau Pangeran Surianata merebut kekuasaan dari kemenakannya Pangeran Amirullah Bagus Kesuma bin Sultan Saidullah. Amirullah Bagus Kesuma kemudian lari ke Alai Birayang, setelah kuat dan banyak pengikut ia kemudian merebut kembali kekuasaan atas Kerajaan Banjar dari pamannya pada tahun 1679 M, akibat peristiwa ini pamannya yang bergelar Sultan Agung dan anaknya kemudian mati terbunuh. Kekuasaan dapat direbut, Kerajaan Banjar dapat disatukan dan ia memegang kekuasaan kembali dan bergelar Pangeran Kuning alias Sultan Tahlilullah bin Sultan Saidullah.
Sesudah Sultan Tahlilullah mangkat ia digantikan oleh putranya Sultan Tahmidullah. Ketika Sultan Tahmidullah wafat pada tahun 1734 M ia tidak meninggalkan anak, karenanya digantikan oleh saudaranya, bernama Sultan Kuning bin Sultan Tahlilullah. Semestinya, ketika Sultan Kuning wafat ia akan digantikan oleh putranya, tetapi karena putranya yang bernama Pangeran Muhammad Aliuddin bin Sultan Kuning masih belum dewasa maka bertindak sebagai wali adalah pamannya, Pangeran Tamjid bin Sultan Tahlilullah atau Sultan Tamjidillah. Ketika dewasa Pangeran Muhammad Aliuddin dikawinkan dengan anak Sultan Tamjidillah, karenanya Sultan Tamjidillah adalah paman, ayah mertua, sekaligus wali bagi P. Muhammad Aliuddin dalam menjalankan pemerintahan. Sultan Tamjidillah sendiri tampaknya enggan menyerahkan kekuasaan kepada P. Muhammad Aliuddin, sehingga sempat terjadi peperangan antara keduannya sebelum penyerahan kekuasaan dilakukan pada tahun 1759 M Sultan Tamjidillah wafat pada tahun 1778 M, sedangkan Pangeran Muhammad Aliuddin hanya sempat memerintah Kerajaan Banjar selama 2 tahun (1759-1761 M) dan wafat pada tahun 1761 M tersebut.
Mestinya penggantinya adalah anaknya, tetapi lagi-lagi karena anaknya yang bernama Pangeran Abdullah memiliki dua orang saudara, yakni Pangeran Rahmat dan Pangeran Amir belum dewasa maka wali pemerintahan diserahkan kepada Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidillah yang menjalankan roda pemerintahan pada tahun 1761-1787 M. Di masa menjabat sebagai wali inilah terjadi lagi pembunuhan, Pangeran Abdullah dan P. Rahmat mati sebelum dewasa, sehingga menimbulkan dendam pada Pangeran Amir yang kemudian pergi ke Pasir (Kalimantan Timur). Pangeran Amir berusaha merebut kekuasaan atas tahta Kerajaan Banjar pada tahun 1787 M tetapi serangannya dapat dipatahkan oleh Pangeran Nata Dilaga yang sebelumnya secara taktis telah melakukan perjanjian dengan Belanda. Atas bantuan Belanda pasukan Pangeran Amir yang dibantu oleh orang-orang Bugis berhasil dipatahkan, P. Amir berhasil ditangkap dan kemudian dibuang ke Ceylon. P. Amir ini adalah Kakek dari P. Antasari. Atas keberhasilannya, Belanda kemudian menagih janji, tetapi dengan politisnya janji tersebut tidak dipenuhi oleh Pangeran Nata Dilaga, Belanda gusar dan tertipu akibat sandiwara politik P. Nata Dilaga. Inilah yang membuat Belanda dendam dan terus berusaha menghancurkan Kerajaan Banjar, hingga berhasil dengan mengkudeta Pangeran Hidayat dan mendudukan Pangeran Tamjid bin Pangeran Abdurrahman sebagai sultan boneka, sampai akhirnya kerajaan Banjar kemudian dihapuskan secara sepihak oleh Belanda pada tahun 11 Juni 1860 M.
Inilah kronik sejarah perebutan tahta di Kerajaan Banjar, dari sekian rentetan perebutan kekuasaan tersebut dalam pengamatan penulis yang menarik dicermati adalah peristiwa naiknya Pangeran Nata Dilaga sebagai Raja Banjar bergelar Sultan Tahmidullah II yang disebut-sebut sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas terbunuh Pangeran Abdullah dan Pangeran Rahmat serta tuntutan dari Pangeran Amir (semuanya anak dari Pangeran Muhammad Aliuddin bin Sultan Kuning) sebagai pewaris tahta kerajaan.
Tulisan ini mencoba untuk memberikan wacana dan wawasan baru terhadap peristiwa sejarah kelam tersebut, sebagai upaya pencerahan dalam memandang, mengkaji, dan memahami sejarah Banjar yang selama ini didominasi oleh sumber-sumber atau literatur-literatur Belanda, sehingga literatur lokal yang secuil pun jadi terlupakan.
Bermula dari eksistensi kitab Sabil al-Muhtadin lit-tafaqqahu fid-din, karya tulis kebanggaan orang Banjar yang monumental. Ditulis oleh seorang ulama Banjar, yang diberi julukan Matahari Islam Nusantara (Wan Mohd. Shagir Abdullah), Mercusuar Islam Kalimantan (K.H. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama RI 1962-1967), Ulama Mujaddid dan Reformer (Azyumardi Azra), Tuan Haji Besar (Pemerintah Hindia Belanda di Batavia), dan Matahari Islam Kalimantan (Penulis), yakni Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari.
Bagi sebagian kalangan masyarakat Banjar boleh jadi kitab ini hanyalah literatur guna mengkaji, mempelajari, dan memahami fiqih, dalam rangka melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun lebih dari itu bagi pengkaji sejarah, kitab Sabil al-Muhtadin juga merupakan bukti otentik salah satu bagian dari sejarah Banjar, terutama tatkala menggambarkan sosok penguasa atau sultan yang memerintah Banjar ketika itu, yakni Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidullah, bergelar Sultan Tahmidullah II (1781-1801 M).
Kitab Sabil al-Muhtadin ini ditulis selama 2 tahun, dimulai pada tahun 1193 H/1779 M dan selesai pada 27 Rabiul Akhir 1195 H/1781 M. Dalam mukaddimah kitab Sabil al-Muhtadin ditegaskan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bahwa:
Pada tahun 1193 Hijriyah Nabi, telah meminta kepadaku penguasa negeri yang dianugerahkan Tuhannya dan rahmat Allah yang banyak selalu melimpah kepadanya, seorang raja yang tinggi cita-citanya, yang cerdas, pandai, berbicara dengan petah, mempunyai pikiran yang bersih dan pengetahuan yang dalam, ialah yang menguasai negeri Banjar, yang selalu berusaha dan ikutan yang mulia Maulana Sultan Tahmidullah bin Sultan Tamjidullah. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya dan kekal kerajaan pada keturunannya, senantiasa kejayaan kerajaan dan keturunannya, semoga amal kebajikan dan kemurahannya menghimpun rakyatnya.
Sementara, dalam pandangan dan catatan sebagian penulis maupun sejarawan Banjar, Sultan Tahmidullah dianggap sebagai seorang sultan yang dibenci oleh rakyat Banjar, karena telah melakukan kudeta dan mengalirkan darah dalam tubuh kerajaan Banjar dengan terbunuhnya Pangeran Abdullah dan Pangeran Rahmat (menurut riwayat mati tercekik) putra mendiang Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, pewaris tahta kerajaan Banjar, sedangkan saudara mereka P. Amir menjauhkan diri dan pergi ke Pasir (Kalimantan Timur), dan mendapat bantuan dari orang-orang Bugis yang dipimpin oleh Daeng Turawe. Cerita tentang kudeta ini dapat kita temukan pada disertasi J.C. Noorlander 1935, Banjarmasin en de Compagnie in de 2e Helft van de 18 eeuw, juga dua buah buku yang ditulis oleh sejarawan lokal, namun sumber utamanya tetap dari penulis-penulis Belanda, yakni Sedjarah Banjarmasin oleh M. Idwar Saleh, 1958 dan Suluh Sedjarah Kalimantan, oleh Kiai Amir Hasan Bondan.
Ada sesuatu yang paradoks dari dua kenyataan di atas dan dari dua sumber yang berbeda, sehingga menarik untuk direka dan dibutiri kembali, guna mendapatkan informasi yang akurat dan valid.
Jujur, penulis sebenarnya lebih condong dengan pendapat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, namun karena data-data dari penulis sejarah Banjar yang lain juga valid membuat penulis mencoba untuk menganalisis dan memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikompromi untuk mempertemukan dua kenyataan sejarah yang berbeda tersebut.
Kemungkinan pertama, Pangeran Nata Dilaga atau Sultan Tahmidullah II tidak pernah melakukan kudeta dan pembunuhan sebagaimana yang dituduhkan kepadanya, untuk ini ada beberapa alasan yang bisa digunakan:
Pertama, pendapat dari Syekh Muhammad Arsyad ketika menggambarkan sosok Sultan Tahmidullah II adalah benar, sebab ini adalah sumber intern dan langsung dari pelaku sejarah (orang yang mengalami dan hidup di masa itu), sehingga apa yang digambarkannya lebih meyakinkan, otentik, dan bisa diterima. Syekh Arsyad sebagai sumber data dapat dianggap valid dan kredibel, meminjam bahasa perawi hadits, beliau dikenal sebagai seorang yang alim, cerdas, jujur, dan terpercaya. Karenanya sangat tidak mungkin seorang ulama sekaliber Syekh Muhammad Arsyad berdusta dan memberikan pujian serta menyatakan dengan bahasa yang tegas sosok Sultan Tahmidullah sebagai raja yang tinggi cita-citanya, yang cerdas, pandai, berbicara dengan petah, mempunyai pikiran yang bersih dan pengetahuan yang dalam. Padahal ternyata ia adalah seorang penguasa yang zhalim. Untuk apa Syekh Muhammad Arsyad memuji Sultan, sedangkan dia tidak punya kepentingan dan keuntungan apa-apa dari itu, dan kitab Sabil al-Muhtadin pun ditulisnya semula karena memenuhi permintaan Sultan. Sedangkan, yang menyatakan bahwa Sultan Tahmidullah II atau P. Nata Dilaga adalah pelaku pembunuhan tersebut, sumber yang dipakai kebanyakan dari luar (ekstern), yakni dari buku-buku yang ditulis oleh Belanda, yang boleh jadi bias dan tidak bisa kita percayai sepenuhnya. Sebab dalam catatan sejarah sendiri, Belanda mulai memiliki akses dan menguasai Kerajaan Banjar pada masa-masa akhir pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah, ketika kerajaan Banjar sudah melemah, dan mencapai puncaknya ketika mereka berhasil mendudukan Sultan Tamjid sebagai sultan Banjar. Sebelum itu Belanda hanyalah sekelompok pedagang yang terus mendapat kerugian akibat taktik dan strategi Sultan Banjar, terlbih pada masa Sultan Tahmidullah, Belanda mendapat kerugian yang sangat besar dan tertipu oleh perjanjian yang dibuat, masa-masa itu Belanda dengan VOC hanya mendapat kerugian yang besar, Banjarmasin dianggap sebagai pos pengeluaran belaka.
Kedua, apa yang dikemukakan Syekh Muhammad Arsyad memang pas dengan keadaan di waktu itu. Karena di masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II-lah masyarakat Banjar mengalami kemajuan yang signifikan, kesejahteraan masyarakat meningkat, ekonomi dan perdagangan maju pesat. Kemajuan serupa belum pernah dicapai oleh pemerintahan sebelumnya, sehingga dengan kemajuan yang dicapai tersebut rakyat Banjar terlihat hidupnya lebih makmur dan sejahtera. Kondisi ini tentu saja membahagiakan dan menyenangkan seluruh komponen masyarakat. Karena itu wajar jika dikatakan bahwa Sultan Tahmidullah II adalah salah seorang sultan terbesar dalam kerajaan Banjar.
Ketiga, apabila rakyat Banjar membenci Sultan Tahmidullah II, maka sejatinya rakyat Banjar juga membenci Syekh Muhammad Arsyad, karena beliau dianggap pro dan berkawan dengan Sultan, terlebih dengan pernyataan beliau dalam mukaddimah kitab Sabil al-Muhtadin. Tetapi kenyataannya tidak, Syekh Muhammad Arsyad tetap dicintai rakyat Banjar, masyarakat terus berduyun-duyun datang ke Dalam Pagar guna mengkaji ilmu kepadanya, pengajaran dan dakwahnya didengar, fatwa dan nasihatnya ditaati, usaha dakwahnya terus berkembang, dan mendapat sambutan yang positif dari seluruh rakyat Banjar.
Keempat, sejatinya akan terjadi pemberontakan baik dari kalangan rakyat maupun keluarga kerajaan terhadap kepemimpinan Sultan Tahmidullah II, karena dianggap menduduki jabatan Sultan Banjar dengan cara yang ilegal (tidak sah),. Tetapi dalam catatan sejarah pemberontakan dimaksud tidak pernah terjadi, kecuali pemberontakan yang dilakukan oleh P. Amir yang berusaha untuk merebut tahta kerajaan Banjar, tetapi pemberontakan itu sendiri lebih didukung oleh orang-orang Bugis dan Pasir, tidak oleh rakyat atau kalangan istana Banjar. Kemudian pasca pemberontakan P. Amir, situasi kerajaan Banjar dalam berbagai bidang kehidupan, bidang politik, ekonomi, agama dan yang lainnya sangat kondusif, rakyat hidup aman dan tentram.
Kelima, putra Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang terbunuh dalam usia muda dan belum sempat menduduki tahta kerajaan adalah anak kemenakan kandung dari Sultan Tahmidullah II, karena Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah bersaudara dengan Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah. Timbul pertanyaan, apakah mungkin seorang sultan yang beragama Islam tega membunuh anak kemenakannya sendiri, disebabkan hanya karena keinginan untuk menduduki jabatan sultan? Bagi, yang gelap mata hal tersebut realistis saja, sebab apapun halal ditempuh jika ingin mendapat sesuatu. Tetapi bagi penulis, hal itu tidak realistis, penulis tetap beranggapan Sultan Tahmidullah II yang beragama Islam tidak akan mungkin dan tidak tega untuk melakukan pembunuhan terhadap darah dagingnya sendiri, apatah lagi darah dagingnya tersebut masih dalam usia anak-anak. Sebab apabila benar Sultan Tahmidullah II melakukan pembunuhan itu maka apa yang dikatakan oleh Seykh Muhammad Arsyad terhadap sosoknya tidak benar.
Kemungkinan kedua, jika Sultan Tahmidullah II tidak melakukan kudeta dan pembunuhan terhadap anak Muhammad Aliuddin Aminullah, yakni P. Abdullah dan P. Rahmat, ataupun P. Amir yang kemudian lari ke Pasir, diambil jadi anak menantu, dan melakukan pemberontakan hingga dibuang ke Ceylon, lalu siapa yang melakukannya dan apa kepentingannya? Boleh diduga Sultan Tahmidullah II hanyalah kambing hitam dari peristiwa pembunuhan tersebut, walaupun ia memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya (agar bisa menjadi Sultan Banjar). Kuat dugaan pembunuhan itu bisa pula dilakukan oleh Belanda dengan tujuan yang sudah direncanakan.
Ada beberapa argumentasi yang dapat dikemukakan untuk mendukung kemungkinan ini.
Pertama, sebelum terjadi peristiwa pembunuhan tersebut dan ketika Sultan Tahmidullah masih menjabat sebagai wali orang yang dipercaya dan diserahi wewenang untuk mengatur segala urusan kerajaan dari P. Abdullah bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, Belanda memiliki keinginan untuk monopoli perdagangan lada di Banjarmasin tetapi keinginan tersebut tidak dipenuhi dan tidak terealisir, karena sifat dagang orang Banjar yang ingin selalu bebas dalam melakukan perdagangan. Ketidakberhasilan Belanda melndapat monopoli ini boleh jadi membuat sakit hati mereka dan berusaha untuk menguasai serta menghancurkan kerajaan Banjar, terutama Sultan Tahmidullah II
Kedua, di masa menjadi wali itu pula Sultan Tahmidullah II bertindak taktis dengan Belanda dan tidak pernah membiarkan Belanda untuk menguasai Banjar, bahkan Sultan Tahmidullah II berhasil menipu Belanda melalui perjanjian yang sangat merugikan Belanda, sehingga Belanda tidak bebas bergerak untuk menguasai perdagangan di Tanah Banjar, bahkan akhirnya harus angkat kaki dari Banjarmasin, dan diganti kemudian oleh perdagangan Inggris. Tindakan Sultan Tahmidullah II ini tentu saja sangat merugikan Belanda
Ketiga, konspirasi politik dengan tokoh intelektualnya Belanda menghendaki tersingkirnya Sultan Tahmidullah II, tetapi Belanda tidak berani menempuh jalan kekerasan, sebab akan melibatkan masyarakat Banjar akibatnya tentu akan terjadi perang, padahal rakyat Banjar waktu itu patuh dan mencintai Sultannya. Satu-satunya jalan adalah melakukan fitnah dan mengubah kecintaan rakyat menjadi kebencian, dan politik adu domba (devide et empera). Maka disusunlah sebuah rencana, keputusannya Belanda harus membunuh P. Abdullah dan P. Rahmat bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah secara licik dengan harapan tuduhan pembunuhan tersebut akan ditimpakan kepada Sultan Tahmidullah II sebagai orang yang berkepentingan, sehingga apabila Sultan Tahmidullah tertuduh sebagai pembunuh tentu semua komponen kerajaan dan rakyat Banjar akan membencinya, persatuan rakyat Banjar akan melemah, bingung siapa yang harus dibela, sehingga akan terjadi pemberontakan. Saat-saat chaos itulah Belanda akan mengambil keuntungan dan bermain di air keruh.
Pada satu sisi siasat Belanda berhasil dan menurut versi Belanda Sultan Tahmidullah dituduh telah melakukan kudeta dan pembunuhan tersebut, tetapi pada sisi yang lain gagal, karena chaos tidak terjadi, pemberontakan tidak pecah, malah kemudian Sultan Tahmidullah II mampu menguasai keadaan dan dikukuhkan menjadi Sultan Banjar, terus berkuasa bahkan membawa kemakmuran rakyat Banjar. Strategi Belanda gagal, akibatnya di masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II, Belanda mengalami kerugian dan tertipu oleh perjanjian akibat taktik dan strategi Sultan Tahmidullah II. Belanda habis-habisan membantu Sultan Tahmidullah II ketika mengatasi pemberontakan P. Amir yang dibantu oleh orang-orang Pasir dan orang Bugis dengan harapan mendapat daerah dan monopoli perdagangan rempah-rempah, tetapi buntutnya, setelah bantuan diberikan Belanda mereka tidak pernah mendapatkan sedikitpun keuntungan yang sebelumnya diharapkan.
Kemungkinan ketiga, kalaupun Sultan Tahmidullah II melakukan kudeta dan pembunuhan tersebut, maka apa yang dikatakan oleh Syekh Muhammad Arsyad dalam kitab beliau Sabil al-Muhtadin, menjadi tidak benar, berarti beliau telah berdusta, karena mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya, padahal tentu ini tidak mungkin beliau lakukan. Kemudian jika ada yang menyatakan bahwa pujian kepada raja atau sultan di masa itu adalah hal yang lumrah karena adat, atau pula pujian itu berkonotasi lain, maka menurut penulis semua itu tidak mungkin dilakukan oleh Syekh Arsyad. Sebab, karena walau bagaimana pun, seorang ulama yang besar tidak mungkin menjilat pemerintah, apalagi beliau tidak memiliki kepentingan-kepentingan ataupun mendapat keuntungan dari semua itu.
Jadi bagaimana? Analisis penulis yang terakhir dan agak praktis adalah bahwa ketika kitab Sabil al-Muhtadin tersebut ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad, pada tahun 1779-1781 M Pangeran Nata Dilaga atau Sultan Tahmidullah II walaupun pelaku kudeta tetapi sudah menyatakan dirinya bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Itulah sebabnya di masa-masa pemerintahannya perhatian terhadap kemakmuran hidup rakyat, pendidikan, dan kehidupan beragama mendapat prioritas yang luar biasa, dan mendapat kemajuan yang mengantarkan rakyat kepada kehidupan yang lebih makmur dibanding masa sebelumnya. Sehingga wajar jika Sultan Tahmidullah dianggap sebagai salah seorang Sultan Banjar yang besar dalam sejarah Banjar. Untuk mendukung pernyataan ini ada beberapa alasan yang bisa dikaji:
Pertama, kerajaan mendapat kemajuan yang pesat, perdagangan menjadi maju, dan Tanah Banjar menjadi kawasan perdagangan yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari luar, penghasilan rakyat menjadi meningkat dan makmur.
Kedua, Pangeran Nata Dilaga dianggap sebagai salah satu Raja Banjar yang terbesar, karena di masanyalah daerah Berau, Kutai, dan Pasir dapat ditaklukkan kembali.
Ketiga, di masa pemerintahannya pula Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari diangkat sebagai penasihat kerajaan, sekaligus pendamping dalam pelaksanaan hukum-hukum Islam di Kerajaan Banjar, dan dibentuknya Mahkamah Syariyah (lembaga hukum), pendidikan agama Islam ditingkatkan dan mengalami kemajuan, Islam tersebar ke berbagai wilayah.
Keempat, Sultan Tahmidullah II-lah Sultan Banjar yang meminta Syekh Muhammad Arsyad untuk menulis kitab fikih Sabil al-Muhtadin guna menjadi pedoman bagi masyarakat Banjar dalam melaksanakan ajaran Islam, dan ia tercatat sebagai salah seorang murid utama dari Syekh Muhammad Arsyad, hingga kemudian dikenal sebagai Sultan Banjar yang alim dan Wara (Abu Daudi, 1996: 11).
Terakhir, jika memang benar-benar terjadi kudeta dimaksud, maka tampaknya itulah salah satu episode kelam dalam sejarah Kerajaan Banjar. Mengapa sejarah kita harus dipenuhi dengan kudeta? Inikah warisan (budaya) bacakut papadan, barabut sapadingsanakan model elit politik? Bagaimana kaitannya dengan Pilkada (baca bupati) untuk beberapa daerah di Kalimantan Selatan? Apakah juga ada kudeta? Atau bagaimana?
Kudeta dalam arti merebut kekuasaan secara paksa atau melalui pembunuhan, atau pemberontakan memang tidak terjadi. Tetapi kudeta dalam arti yang lain, misalnya membeli suara rakyat dengan iming-iming sejumlah uang, sejumlah barang, dan sejumlah janji tentu dan bisa saja terjadi. Jika demikian bukankah tindakan seperti itu juga bisa disebut kudeta tak berdarah, benarkah hal ini? Mari kita renungkan bersama.
Namun, apapun yang terjadi, penulis tetap berharap bahwa kenyataan sejarah yang ada menjadi pelajaran berharga bagi para calon pemimpin banua agar tidak melakukan kudeta, yakni menghalalkan segala cara untuk memenangkan kontes menjadi kepala daerah. Bermainlah dengan cantik, tampil menawan, dan menang secara elegan, serta tidak melestarikan model bacakut papadaan atawa barabutan, sehingga melupakan tujuan semula. Karena, pembangunan banua dalam irama kebersamaan, persatuan, dan kesejahteraan, adalah hal yang pertama dan utama. Wallahu alam.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post