Kitab Parukunan

24 Oct 2010

TELAAH SINGKAT SEJARAH DAN KANDUNGAN
KITAB PARUKUNAN JAMALUDDIN AL-BANJARI
Oleh: Zulfa Jamalie
Abstrak :
Bagi masyarakat Banjar khususnya dan masyarakat Melayu umumnya, Kitab Parukunan sudah sangat populer dan begitu mereka kenal, salah satunya adalah Kitab Parukunan Jamaluddin. Kitab Parukunan tersebut tidak hanya dipelajari, akan tetapi juga menjadi dasar bagi masyarakat Banjar dalam melaksanakan ibadah sehari-hari. Karena, parukunan sendiri dalam bahasa Banjar bermakna perkara-perkara yang diwajibkan oleh agama yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, mencakup rukun Islam (fikih), rukun Iman (tauhid), dan rukun Ihsan (tasawuf), sebagaimana yang dibahas dalam Kitab Parukunan Jamaluddin. Kitab ini menurut edisi cetaknya ditulis oleh Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, namun tutur lisan masyarakat Banjar menginformasikan bahwa kitab ini dihimpun oleh Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis (cucu Al-Banjari), sehingga lebih tepat disebut Kitab Parukunan Fatimah. Siapa sebenarnya yang menulis Kitab Parukunan ini? Bagaimana sejarah penulisannya? Bagaimana sejarah hidup penulisnya? Bagaimana hubungan dan posisi Kitab Parukunan ini terhadap kitab karya ulama Banjar yang lainnya? Apa dan bagaimana isi kandungannya? Adalah sejumlah key questions sekaligus tema pokok yang hendak dijawab dan didiskusikan dalam tulisan ini.
Kata-kata kunci :
Kitab Parukunan Jamaluddin, Parukunan Melayu Besar, Mufti Jamaluddin, Fatimah, dan esensi zikir.
A. Pendahuluan
Karel S. Steenbrink (1985: 5) menyatakan bahwa Banjarmasin dalam catatan sejarah pernah menjadi pusat studi Islam yang banyak menghasilkan karya-karya keagamaan dan sastra, selain daerah Palembang dan Aceh. Azyumardi Azra menambahkan bahwa melalui ketokohan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Banjarmasin memerankan peranan yang cukup penting dalam jaringan ulama Nusantara abad ke-18 dan akhir abad ke-19.
Dalam konteks ini, salah satu kitab klasik karya ulama Banjar yang menarik untuk dibicarakan dan dikaji adalah Kitab Parukunan yang umumnya dinisbahkan sebagai karya tulis Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Ada beberapa faktor penting, sehingga Kitab Parukunan ini menarik untuk ditelaah.
Pertama, berdasarkan naskah cetak yang beredar luas dan dicetak oleh berbagai percetakan atau penerbit, kitab tersebut ditulis oleh Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Namun berdasarkan tutur lisan yang berkembang di kalangan masyarakat dan kemudian ditegaskan oleh Abu Daudi, kitab tersebut sebenarnya ditulis atau dihimpun oleh Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis, di mana materi-materi yang terhimpun di dalamnya merupakan hasil pelajaran yang didapat oleh Fatimah dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam majelis pengajiannya. Namun, dikarenakan penamaan kitab ini dinisbahkan kepada pamannya, yakni Mufti Jamaluddin, sehingga kemudian populer dengan sebutan Kitab Parukunan Jamaluddin.
Menurut catatan Wan Mohd. Shagir Abdullah ada pula yang menyatakan bahwa Kitab Parukunan tersebut adalah karya tulis anak perempuan pertama Al-Banjari, yakni Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Kedua, Kitab Parukunan Jamaluddin tersebut kemudian berkembang dalam berbagai versi sebutan, ada yang menyebutnya dengan Kitab Parukunan Melayu, Parukunan Besar, Parukunan Besar Melayu, Parukunan Abdul Rasyid, dan lain-lain, walaupun sebenarnya masing-masing Kitab Parukunan dimaksud memiliki perbedaan.
Ketiga, Kitab Parukunan Jamaluddin tersebar luas diberbagai kawasan dan negara, tidak hanya di Tanah Banjar akan tetapi secara umum meliputi Dunia Melayu dan memiliki pengaruh yang kuat. Karenanya dengan merujuk pada rumusan Yayasan Karyawan Malaysia, pendapat Hasan Ahmad ataupun Siddiq Fadzil , boleh dikata bahwa Kitab Parukunan Jamaluddin adalah salah satu karya besar ulama Melayu.
Keempat, apabila benar bahwa Kitab Parukunan Jamaluddin ini merupakan karya tulis dari Fatimah ataupun Syarifah, maka bisa dikatakan bahwa inilah kitab keagamaan pertama yang dihasilkan oleh ulama perempuan Banjar yang sampai sekarang jejaknya belum bisa diikuti (diteruskan) oleh ulama Banjar perempuan pada masa sekarang. Karenanya, tentu saja eksistensi karya tulis ini bisa dikatakan istimewa dan luar biasa. Terlebih lagi, dalam beberapa masa, kehadiran kitab ini di tengah masyarakat sangat diperlukan, disenangi, dan dijadikan sebagai pegangan dalam pelajaran dasar agama secara luas diberbagai daerah (Tanah Melayu).
Berdasarkan permasalahan di atas, maka kajian ini penting untuk dilakukan guna mengungkap sejarah penulisan kitab ini, sejarah hidup penulisnya, isi dan kandungannya, hubungan dan posisi Kitab Parukunan ini terhadap karya tulis ulama Banjar yang lain, dan data-data penting lainnya berkenaan dengan permasalahan Kitab Parukunan Jamaluddin dimaksud.
B. Kitab Parukunan Jamaluddin
Kitab Parukunan yang menjadi objek kajian dalam tulisan ini adalah Kitab Parukunan Jamaluddin, diterbitkan oleh Penerbit Al-Haramain, Singapura-Jeddah-Indonesia, tanpa tahun. Kitab Parukunan ini oleh H. Ilyas Yaqub al-Azhari, disebut pula dengan nama Kitab Parukunan Sembahyang. Hal ini mungkin karena isi pembahasan yang ada di dalamnya banyak mengetengahkan berbagai hal penting tentang atau berhubungan dengan sembahyang.
Berdasarkan berbagai versi cetak Kitab Parukunan Jamaluddin yang beredar, semuanya menyatakan bahwa Kitab Parukunan ini dikarang oleh Mufti H. Jamaluddin.
Menurut Zafry Zamzam, Kitab Parukunan ini pertama kali diterbitkan di Mekkah dan Singapura tahun 1318 H, kemudian dicetak ulang di Bombay (India), dan terakhir di Indonesia, hingga sekarang. Kitab Parukunan ini menjadi pegangan dan dipelajari oleh orang-orang Islam Melayu sebagai dasar pelajaran agama, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Philipina, Vietnam, Kamboja, dan Burma. Senada dengan Zafry Zamzam, menurut Abu Daudi, karena disukai oleh pembacanya, maka kitab ini tidak hanya beredar di Kalimantan atau Indonesia, akan tetapi juga menyebar sampai ke Malaysia, Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara, dan menjadi buku pegangan bagi pemula. Sedangkan menurut Wan Mohd. Shagir Abdulllah, kitab ini pertama kali dicetak pada tahun 1315 H/1897 M, oleh percetakan Mathbaah al-Miriyah al-Kainah, Mekkah. Dengan demikian, kitab ini dicetak berselang 15 atau 18 tahun sesudah dicetak dan diterbitkannya Kitab Sabil al-Muhtadin pada tahun 1300 H.
Pada bagian depan (sampul luar) Kitab Parukunan Jamaluddin ini tertulis pernyataan bahwa:
Inilah Kitab Parukunan Jamaluddin, karangan al-Alim al-Alamah Mufti Jamaluddin ibn al-Fadhil Syekh Muhammad Arsyad Mufti Banjar…. Pada tepi kitab ini ada satu risalah yang membicarakan hukum jarah, yakni luka dan membunuh, maka hantarkan satu mukadimah dan beberapa pasal dan satu khatimah karangan Muhammad bin Abdullah Baid al-Asyi.
Redaksi kalimat yang dinyatakan pada bagian depan (sampul luar) kitab ini agak sedikit berbeda dengan redaksi pernyataan yang ada di halaman depan bagian dalam:
Inilah kitab yang bernama Parukunan, karangan al-Alim al-Alamah Mufti Jamaluddin ibnu almarhum al-Alim al-Fadhil Syekh Muhammad Arsyad Mufti Banjar…. Maka adalah di tepi kitab ini satu risalah pada bicara hukum jarah, yakni luka dan mambunuh maka hantarkan satu mukadimah dan beberapa pasal dan satu khatimah karangan Muhammad bin Abdullah Baid al-Asyi.
Jika diperbandingkan, pernyataan yang dimuat oleh penerbit dalam Kitab Parukunan Jamaluddin di atas berbeda pula dengan pernyataan yang dimuat dan ditulis pada bagian sampul Kitab Parukunan Besar Melayu yang diterbitkan oleh Duatiga Putra Al-Maarif, tanpa tahun:
Ini Kitab Parukunan Besar Melayu karangan Haji Abdul Rasyid Banjar, yang diambil daripada sebahagian karangan Syekh Muhammad Arsyad Banjar, dengan tambahan Sifat Duapuluh, Khutbah Jumat, Khutbah Nikah, Ratib, Talqin Mayit, Bab Haid, Doa-doa, Bab Haji, Fatihah dengan Makna, Qunut, Tahiyyat dengan Makna, Doa Akasyah.
Melihat perbedaan isi dari kedua di atas, yakni Kitab Parukunan Jamaluddin dan Kitab Parukunan Besar Melayu, wajar jika Wan Mohd. Shagir Abdullah menyatakan bahwa kedua kitab yang kadang diklaim sama oleh orang Melayu tersebut sebenarnya berbeda, baik dari segi pengarang maupun dari segi isinya.

C. Syekh Abdul Wahab Bugis, Mufti H. Jamaluddin, dan Alimatul Fadhilah Fatimah
1. Syekh Abdul Wahab Bugis
Dalam tulisan ini, Syekh Abdul Wahab Bugis penting untuk penulis singgung, karena beliau adalah ayah dari Fatimah dan berjasa besar terhadap syiar Islam di Tanah Banjar, walaupun secara khusus, riwayat hidup dan perjuangan Syekh Abdul Wahab Bugis telah penulis kemukakan dalam tulisan berjudul: Mengungkap Riwayat dan Perjuangan Dakwah Syekh Abdul Wahab Bugis di Tanah Banjar.
Syekh Abdul Wahab adalah seorang ulama berdarah bangsawan, keturunan seorang raja yang berasal dari daerah Sadenreng Pangkajene, serta dilahirkan di sana. Sebagai seorang yang berdarah bangsawan ia diberi gelar Sadenring Bunga Wariyah, karena itu nama lengkapnya adalah Syekh Abdul Wahab Bugis Sadenreng Bunga Wariyah.
Abdul Wahab bersahabat dengan Syekh Abdurrahman al-Misri dan lama menuntut ilmu dengan guru-guru terkemuka di Mesir. Mereka berdua merupakan murid kesayangan dari Syekhul Islam, Imamul Haramain Alimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. Itulah sebabnya mereka berdua mengiringi Syekh Sulaiman al-Kurdi ke Kota Madinah ketika gurunya itu hendak mengajar, mengembangkan pengetahuan agama, dan Ilmu Adab serta mengadakan pengajian umum. Di Kota Madinah ini pulalah mereka berdua kemudian bertemu dengan Al-Banjari dan Syekh Abdussamad Al-Palimbani, sehingga kemudian keempatnya berkawan karib dan dikenali sebagai empat serangkai.
Syekh Abdul Wahab kemudian dinikahkan oleh Al-Banjari dengan putrinya yang bernama Syarifah (di Martapura) ketika mereka (empat serangkai) masih di Mekkah dan akan pulang ke tanah air. Abdul Wahab pun mengikuti Al-Banjari dan tiba di Tanah Banjar pada bulan Desember 1772/Ramadhan 1186 H, di mana pada masa itu yang memerintah di Kerajaan Banjar adalah Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidillah, sebagai wali putra mendiang Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (1761-1787 M). Pangeran Nata Dilaga sendiri secara resmi memerintah sebagai Sultan Banjar dan kemudian bergelar Sultan Tahmidillah II bin Sultan Tamjidillah, sejak tahun 1781-1801 M.
Bersama-sama dengan Al-Banjari, Syekh Abdul Wahab berjuang untuk mengembangkan kehidupan beragama masyarakat Banjar, mendidik, dan mengkader generasi penerus. Mereka juga bahu-membahu membangun, membuka, dan menjadikan Kampung Dalam sebagai pusat perkembangan Islam.
Setelah mengabdikan ilmu, amal, dan hidupnya untuk Islam di Tanah Banjar selama lebih 14 tahun, pada tahun 1786, Syekh Abdul Wahab wafat dalam usia sekitar 64 tahun. Syekh Abdul Wahab kemudian dikuburkan di pemakaman Bumi Kencana Martapura dan oleh Al-Banjari, bersamaan dengan makam Tuan Bidur, Tuan Bajut, dan Aisyah (saudara Syarifah, anak Tuan Bajut), makamnya dipindahkan ke desa Karangtangah pada tahun 1793 M.
Perkawinan Abdul Wahab dengan Syarifah melahirkan dua orang anak, yakni Fatimah dan Muhammad Yasin. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab inilah yang dituturkan oleh masyarakat Banjar sebagai penyusun Kitab Parukunan, namun dinisbahkan kepada pamannya, Mufti Jamaluddin.
2. Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Mufti Jamaluddin adalah anak bungsu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan istri yang keempat, bernama Tuan Go Hwat Nio binti Kapten Kodok dari Banjarmasin. Beliau mempunyai 5 orang saudara kandung, yakni Asiah, alimul allamah Khalifah H. Hasanuddin, alimul allamah Khalifah H. Zainuddin, Reihanah, dan Hafsoh.
Mufti Jamaluddin diperkirakan lahir pada tahun 1780 M di Martapura dan merupakan mufti kedua di Kerajaan Banjar. Beliau diangkat sebagai mufti pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiqbillah (1825-1857 M). Mufti pertama Kerajaan Banjar adalah Muhammad Asad binti Syarifah, cucu pertama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Muhammad Asad diangkat menjadi mufti pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman al-Mutamidillah (1801-1825 M).
Mufti Jamaluddin menurut Wan Mohd. Shagir Abdullah adalah seorang yang alim serta memiliki pengaruh kuat dan peran yang sangat besar terhadap perkembangan agama Islam dalam kehidupan bernegara di Kerajaan Banjar. Hal ini sebagaimana tampak pada pasal 31 Undang-Undang Sultan Adam (UUSA):
….Sekalian kepala-kepala jangan ada yang menyalahi pitua Haji Jamaluddin ini, lamun orang lain yang menyalahi kuhukumkan, lamun orang-orang lain yang menyalahi apabila ikam kahada kawa manangat lakas-lakas bapadah kayah diaku.
Tidak diketahui secara pasti kapan Mufti H. Jamaluddin wafat? Namun, diperkiraan beliau wafat sekitar tahun 1863 M dalam usia kurang lebih 83 tahun, tiga tahun sesudah Kerajaan Banjar dihapuskan oleh Belanda. Beliau kemudian dimakamkan di Kalampayan, satu kubah dengan makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan berada pada baris ke-6.
Dalam sejarah Banjar ada seorang lagi ulama besar, alim, keturunan Al-Banjari, dan juga seorang mufti, yang kebetulan namanya juga Mufti Jamaluddin, sehingga terkadang tertukar antara Mufti Jamaluddin yang berkubur di kubah Kalampayan (Astambul-Martapura) dan diangkat menjadi mufti di zaman Kerajaan Banjar dengan Mufti Jamaluddin yang berkubah di Sungai Jingah (Banjarmasin) dan diangkat menjadi mufti di zaman Belanda. Mufti Jamaluddin yang berkubah di Sungai Jingah dan hidup di zaman Belanda ini lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru H. Surgi Mufti.
Tuan Guru H. Surgi Mufti atau Mufti Jamaluddin yang ini adalah cicit Al-Banjari dari garis istri beliau yang keenam, bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha (seorang bangsawan Kerajaan Banjar). Silsilah Tuan Guru Surgi Mufti ini adalah: Mufti Jamaluddin bin Zalekha binti Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Semasa hidupnya, Tuan Guru H. Surgi Mufti dikenal sebagai seorang ulama besar yang pemurah, ramah-tamah, dan disegani oleh semua kalangan, termasuk oleh Belanda. Banyak orang-orang yang belajar dan menuntut ilmu kepada beliau.
Menurut Abu Daudi, Tuan Guru H. Surgi Mufti diangkat menjadi mufti oleh pemerintah Belanda dan berkedudukan di Banjarmasin pada tahun 1896. Beliau wafat pada tanggal 8 Muharram 1348 H (1902) dan dimakamkan di depan rumah beliau di Jalan Masjid Jami Banjarmasin. Oleh Pemerintah, makam beliau kemudian ditetapkan sebagai salah satu peninggalan dan cagar budaya yang dilindungi, hingga sekarang dikenal oleh masyarakat Banjar dengan nama Kubah Sungai Jingah. Gelar beliau juga diabadikan menjadi nama satu kelurahan dalam wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara, yakni Kelurahan Surgi Mufti.
3. Alimatul Fadhilah Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis
Fatimah adalah anak pertama Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dari perkawinannya dengan Syekh Abdul Wahab Bugis. Menurut cerita, Syarifah dikawinkan dengan Syekh Abdul Wahab Bugis oleh Al-Banjari ketika beliau masih berada di Mekkah dan bertindak sebagai wali mujbir. Menurut perkiraan penulis, pernikahan ini terjadi di tahun 1771 M ketika Al-Banjari hendak pulang ke banua (Martapura).
Berdasarkan data yang ada, menurut penulis, Fatimah dilahirkan di Martapura pada tahun 1775. Fatimah memiliki saudara kandung bernama Muhammad Yasin dan saudara seibu dengan Mufti Muhammad Asad bin Usman yang dilahirkan pada tahun 1772.
Fatimah dikenal sebagai seorang yang cerdas dan rajin menuntut ilmu agama. Sehingga, Fatimah merupakan cucu perempuan pertama Al-Banjari yang telah mewarisi ilmu-ilmu keislaman dari ayah dan kakeknya, ia dapat menguasai berbagai bidang ilmu, seperti Ilmu Arabiyah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushuluddin, Fikih, dan sebagainya dengan baik. Sehingga kemudian bersama-sama dengan saudaranya seibu Muhammad Asad binti Syarifah, mereka berdua dikenal sebagai Bunga Ilmu Tanah Banjar. Jika Muhammad Asad menjadi guru bagi kaumnya, maka Fatimah pun menjadi seorang guru bagi kaum perempuan yang ingin belajar ilmu agama di zamannya.
Fatimah besar dan lebih banyak dididik secara langsung oleh kakeknya, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena, ketika masih berusia 11 tahunan (pada tahun 1786), ia telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Setelah dewasa, oleh Al-Banjari, Fatimah dikawinkan dengan salah seorang keluarga dari ayahnya, yakni H. M. Said Bugis pada tahun 1792, ketika berusia 18 tahun. Dari perkawinannya dengan H. M. Said Bugis ini, Fatimah mendapatkan dua orang anak, yakni Abdul Ghani dan Halimah. Abdul Ghani kawin dengan saudara sepupunya, bernama Saudah binti Muhammad Asad dan mendapatkan dua orang anak yang meninggal pada waktu masih kecil, sedangkan Halimah tidak memiliki keturunan. Abdul Ghani kemudian kawin lagi dengan seorang perempuan asal Mukah (Sarawak-Malaysia) dan mendapatkan dua orang anak bernama M. Said dan Sadiyah. M. Said kemudian kawin dan menurunkan Adnan dan Jannah, sedangkan Sadiyah menurunkan Sailis (Sekadu-Pontianak). Saudara sekandung Fatimah yang bernama Muhammad Yasin tidak memiliki keturunan dan diperkirakan meninggal dalam usia muda.
Diperkirakan Fatimah meninggal dunia pada tahun 1828 M, yakni ketika berumur 53 tahun. Dia kemudian dikuburkan di komplek pemakaman Desa Karang Tengah Kecamatan Martapura, satu komplek dengan kuburan ayah dan ibunya (Syekh Abdul Wahab Bugis dan Syarifah).
D. Kitab Parukunan Fatimah
Berdasarkan kajian dan telaahan yang dilakukan terhadap Kitab Parukunan Jamaluddin ini, secara ringkas berikut dikemukakan beberapa kesimpulan penulis:
Pertama, Kitab Parukunan ini pada prinsipnya semacam ringkasan (khulasah) dari kitab Sabil al-Muhtadin yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan dicetak untuk pertama kalinya di Mekkah pada tahun 1300 H. Karenanya jika dibandingkan, isi dan pembahasan yang diuraikan di dalamnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Kitab Sabil al-Muhtadin. Hal ini bisa dimaklumi, karena baik Kitab Parukunan Jamaluddin maupun Kitab Sabil al-Muhtadin bermuara pada satu sumber yang sama.
Kedua, karena semacam ringkasan dari Kitab Sabil al-Muhtadin, maka wajar dikatakan jika pembahasan yang dihimpun di dalam Kitab Parukunan ini berdasarkan pada materi pelajaran yang disampaikan atau didiktekan oleh Al-Banjari kepada murid-muridnya, yang salah seorang di antaranya adalah Fatimah. Hal ini juga bisa dibaca dari gaya penulisan kitab yang bersifat penuturan dan ditujukan kepada pendengar atau lawan bicara, seperti tergambar pada kata: ketahuilah olehmu hai thaalib (pelajar, penuntut ilmu), maka hendaklah kita, dan sebagainya.
Ketiga, Kitab Parukunan ini dijadikan pegangan dan rujukan oleh Fatimah untuk memberikan pengajaran agama kepada kaum perempuan pada masanya, sehingga akses dan kesempatan kaum perempuan untuk mempelajari agama pada masa itu tidak kalah dengan kaum laki-laki. Dalam bukunya Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Tuan Haji Besar), Abu Daudi menggambarkan aktivitas Fatimah ketika memberikan pengajaran agama kepada kaum wanita di masanya. Kalau kaum laki-laki bangga melihat Muhammad Asad, cucu pertama Syekh Muhammad Arsyad menjadi ulama, maka kaum wanita bersyukur karena mendapat guru wanita, cucu kedua Syekh Muhammad Arsyad, yang telah pula mendapat ilmu yang sama. Fatimah duduk di tengah-tengah murid wanita yang datang dari berbagai kampung dan kota, menuangkan ilmu kepada kaum wanita, dan menyadarkan serta memantapkan fungsi wanita dalam beragama. Oleh sebab itu, cerita lisan masyarakat Banjar dan penegasan Abu Daudi dalam bukunya, bahwa kitab ini ditulis atau dihimpun oleh Fatimah memiliki dasar historis yang kuat dan bisa diterima.
Jika memang benar demikian, ada yang menanyakan, kenapa Kitab Parukunan tersebut dinisbahkan kepada nama pamannya, Mufti Jamaluddin? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diperhatikan, bahwa penisbahan kitab ini kepada nama Mufti Jamaluddin bukan dilakukan oleh Fatimah atau pun Mufti Jamaluddin, tetapi dilakukan oleh orang yang meminta dan membawa teks tertulis kitab tersebut untuk dicetak dan diterbitkan oleh penerbit di Mekkah. Sebagaimana informasi Wan Mohd Shagir Abdullah, kitab Parukunan Jamaluddin ini baru dan untuk pertama kalinya dicetak serta diterbitkan pada tahun 1315 H/1897 M atau tahun 1318 H/1900 M berdasarkan informasi Zafry Zamzam. Padahal, baik Fatimah maupun Mufti Jamaluddin sendiri, pada tahun 1897 atau 1900 M tersebut sudah meninggal dunia. Sehingga tentu saja banyak hal atau faktor historis yang menjadi sebab dan melatar-belakanginya.
1. Boleh jadi hal tersebut disebabkan bahwa pada masa itu, bukanlah hal yang lazim jika sebuah kitab keagamaan dikarang atau disusun oleh seorang ulama perempuan. Terjadinya hal seperti ini tidak hanya di Tanah Banjar, akan tetapi umumnya di dunia Melayu dan Timur Tengah, sehingga sangat langka jika kita dapatkan sebuah kitab keagamaan ditulis oleh seorang ulama perempuan. Sehingga apabila ada sebuah kitab keagamaan ditulis oleh seorang ulama perempuan boleh jadi menimbulkan rasa khawatir dan berpengaruh terhadap tingkat keterterimaan masyarakat terhadap hadirnya kitab dimaksud, sementara kitab dimaksud sangat diperlukan oleh masyarakat Melayu (utamanya), terlebih bagi kaum perempuan pada masa itu. Sehingga, tentu akan lebih meyakinkan jika nama penyusunnya dituliskan nama Mufti Jamaluddin.
2. Karena tidak lazim itulah, kuat dugaan ketika naskah Kitab Parukunan ini diserahkan dan akan diterbitkan untuk pertama kalinya, maka pihak penerbit atau percetakan di Mekkah meminta supaya nama penyusunnya seorang ulama laki-laki. Atau, boleh jadi pula, sebelumnya memang sudah dituliskan nama Mufti Jamaluddin sebagai penyusunnya agar diterima, bisa dicetak dan diterbitkan, mengingat tradisi dan kondisi pada masa itu.
3. Kebesaran nama dan kedudukan Mufti Jamaluddin sebagai mufti di Kerajaan Banjar, seorang ulama, keturunan ulama besar Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, diyakini juga memberikan pengaruh yang kuat atas dicetak dan tersebarnya Kitab Parukunan ini ke tengah-tengah masyarakat Melayu di Asia Tenggara. Bahkan sebelum Kitab Parukunan Jamaluddin ini dicetak dan diterbitkan, nama Mufti Jamaluddin sudah dikenal pula sebagai penulis kitab Bulugh al-Maram fi Takhalluf al-Muafiq fi al-Qiyam, namun kitab ini kurang diketahui oleh masyarakat.
Keempat, pembahasan yang termaktub dalam Kitab Parukunan ini, lebih ringkas, praktis, dan mencakup dasar-dasar agama (disebut oleh pentashih kitab; H. Ilyas Yaqub al-Azhari, dengan rukun-rukun agama), baik fikih-ibadah, tauhid, maupun akhlak-tasawuf dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Islam terutama kaum perempuan akan referensi atau buku pelajaran agama pada masa itu yang cukup sulit didapat dan terbatas, di samping kemudahan dalam mempelajarinya. Karenanya, mengingat keterbatasan kaum perempuan pada masa itu, baik dari segi ketersediaan waktu untuk mengikuti pengajian, mengkaji dan muthalaah kitab-kitab keagamaan yang panjang lebar pembahasannya atau ditulis dalam Bahasa Arab, maupun faktor yang lainnya, maka kehadiran Kitab Parukunan ini sangat signifikan dan besar pengaruhnya bagi mereka, bahkan kemudian juga bagi masyarakat Banjar umumnya. Wajar jika kemudian Kitab Parukunan ini tersebar luas dan dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Banjar bahkan masyarakat Melayu umumnya.
Kelima, mengingat segala keterbatasan yang ada pada masa itu, seperti alat tulis, referensi, ataupun tradisi menulis di kalangan perempuan, maka kehadiran Kitab Parukunan ini bisa dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa. Karena, hingga sekarang, ulama perempuan Banjar khususnya walau berada di masa yang sangat mendukung untuk menulis kitab, belum mampu mengikuti dan meneruskan jejak Alimatul Fadhilah Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis.
Berdasarkan uraian di atas maka tidak salah jika dikatakan bahwa kitab ini sebenarnya lebih pas jika disebut atau dinamakan Kitab Parukunan Fatimah.

E. Kandungan Kitab Parukunan Jamaluddin
Kitab Parukunan Jamaluddin yang disusun oleh Fatimah ini, menurut pentashihnya dikategorikan sebagai kitab fikih Syafii. Di mana, pada bagian akhir dari Kitab Parukunan ini, yakni pada halaman 39 dinyatakan bahwa kitab Parukunan Jamaluddin yang berbahasa Jawi (Melayu) ini telah ditashih oleh H. Ilyas Yaqub al-Azhari, kitab ini adalah kitab fikih yang membicarakan beberapa hal berkenaan dengan kewajiban (rukun) umat Islam terhadap ajaran agama.
Walaupun kitab ini ditulis dalam bahasa Arab Melayu dan dikategorikan sebagai kitab fikih, namun berdasarkan materi pembahasan di dalamnya, kitab ini juga memuat masalah tauhid dan tasawuf (akhlak), walaupun secara ringkas. Jadi, Kitab Parukunan ini sebenarnya telah memuat pembahasan tiga sendi pokok ajaran Islam. Itulah sebabnya, oleh pentashihnya, H. Ilyas Yaqub al-Azhari menyatakan bahwa kitab ini memuat dan membicarakan tentang rukun agama (mencakup fikih, tauhid, dan tasawuf).
Kitab ini sebenarnya hanya terdiri dari dua bagian, yakni bagian pendahuluan dan bagian pembahasan. Bagian pendahuluan berisikan puji-pujian kepada Allah dan menguraikan secara ringkas berkenaan dengan Rukun Islam, Rukun Iman, serta sifat 20. Bagian pembahasan memuat tiga hal pokok ajaran Islam, yakni fikih (penjabaran Rukun Islam, minus masalah haji), tauhid (penjabaran Rukun Iman), dan akhlak-tasawuf, yang dibagi dalam beberapa pasal.
Pasal-pasal yang menguraikan tentang fikih-ibadah dimulai dengan pembahasan hukum air, tentang najis, membersihkan najis atau istinja, hal-hal yang mewajibkan mandi, air yang dipakai untuk wudhu, hal-hal berkenaan dengan shalat, seperti syarat, rukun, kaifiat, yang membatalkan shalat, adzan, iqamah, dan lain-lain, termasuk pula pembahasan tentang shalat sunnat; shalat jama dan qashar.
Pasal-pasal berikutnya membahas tentang puasa dan hal-hal penting yang berhubungan dengan puasa, seperti syarat, kewajiban puasa, berbuka, sunnat puasa, perkara yang membatalkan puasa, jima di bulan puasa, dan puasa sunnat. Ada pula pasal yang mengetengahkan tentang kelebihan Nisfu Syaban, pasal mandi jenazah (mayit), kain kapannya, rukun shalat atas jenazah.
Pasal yang berkenaan dengan tauhid membicarakan tentang beberapa perkara penting keyakinan atau keimanan (itiqad) terhadap Allah Swt, Nabi Muhammad Saw, malaikat, siksa kubur, titian sirathal mustaqim, neraka dan sorga, tentang amal, niat, dan sebagainya.
Adapun pasal yang berkenaan dengan akhlak-tasawuf terdapat pada halaman 32 (akhir) dan 33. Pada bagian ini dibicarakan secara ringkas berkenaan dengan masalah khauf (takut), raja (harap), istigfar (taubat), zikir, sabar, dan tawakkal.
Dalam dunia tasawuf, khauf, raja, sabar, taubat, istigfar, istiqamah, tawakkal, dan lain-lain dikenal sebagai maqamat atau stasiun yang harus dijalani oleh seorang sufi atau salik yang ingin mencapai makrifat kepada Allah. Syekh Athaillah al-Iskandari, penulis kitab Al-Hikam misalnya menganjurkan tujuh langkah yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin mencapai makrifat kepada Allah, yakni al-Zuhdu (bersungguh-sungguh), al-Tadharru (merendahkan diri kepada kepada Allah), ihtiraqun nafs (membakar hawa nafsu), al-Inabah (taubat kepada Allah), al-Sabru (bersikap sabar), al-Syukru (selalu bersyukur), dan al-Ridha (senantiasa ridha atas ketentuan Allah). Hal yang lebih kurang sama juga dikemukakan oleh Imam al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali adalah ada 10 macam sifat atau maqamat yang harus dilalui dalam rangka tahalli (mengisi jiwa dengan sifat terpuji), yakni taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakkal, mahabbah, ridha, dan zikrul maut.
Menurut Kitab Parukunan Jamaluddin, dalam kondisi yang bagaimana pun, seyogianya, seorang yang makrifat takut kepada Allah dan selalu berharap (hanya kepada Allah) akan rahmat dan ampunan-Nya. Caranya ialah dengan tetap ingat atau melazimkan zikir kepada Allah (laa ilaaha illallah) dan istigfar, baik ketika dalam keadaan sehat badan, ketika sedang sakit, dan terlebih-lebih lagi ketika menghadapi sakaratul maut (menjelang azal). Seseorang yang menghadapi sakaratul maut haruslah lebih menguatkan sikap mengharapnya (raja) akan rahmat Allah disertai dengan istigfar (taubat, memohon ampunan) atas segala dosa dan kesalahan. Apabila sikap harap sudah dilebihkan, istigfar sudah dimohonkan, zikir sudah dilafazkan, maka hendaklah ia istiqamah dalam sikap tersebut seraya bertawakkal atau berserah diri kepada-Nya. Di samping itu, dengan perasaan raja dan dalam lantunan zikir, hendaklah dia tetap sabar, ingat, dan meyakinkan dirinya bahwa:
1. dia sangat berkehendak kepada Allah
2. dia mengakui akan kelemahan dirinya
3. dia mengakui akan kedhoifan dirinya
4. mengakui akan kehinaan dirinya yang serba kekurangan dan
5. mensucikan hati daripada segala perasaan was-was ataupun perasaan kekhawatiran.
Artinya, melalui zikir dia harus melebur segala perasaan akan kesombongan atau keakuan dirinya (ego) dan menghanyutkan diri dalam kemahakuaasaan-Nya. Dia mesti menyadari bahwa Tuhan adalah zat yang Al-Mutakabbir, pemilik, penguasaan dan Al-Malik atas segala sesuatu, sedangkan manusia hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang tidak memiliki apa-apa dan kuasa atas segala sesuatu apapun, termasuk dirinya sendiri. Inilah hakikat atau esensi zikir yang ditawarkan dalam Kitab Parukunan Jamaluddin.
Melihat dari hakikat atau esensi zikir yang dibicarakan dalam Kitab Parukunan Jamaluddin ini, maka boleh dikata jika kitab ini juga merupakan kelanjutan atau pelengkap dari Risalah Kanz al-Marifah yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sebab, jika dalam Kitab Parukunan Jamaluddin pembahasan tentang zikir difokuskan pada hakikat atau esensi zikir, sedangkan dalam Risalah Kanz al-Marifah dibicarakan tentang tatacara dan adab zikir, sebagaimana dikatakan oleh M. Asywadie Syukur.
Dalam risalah Kanzul Marifah dijelaskan bahwa sebelum seseorang berzikir, maka hendaklah terlebih dahulu dia mandi dan bersuci dari najis atau hadas, mengucapkan istigfar meminta ampun kepada Tuhan, berpakaian yang berwarna putih, khalwat ditempat yang sunyi, sebelumnya mengerjakan shalat sunat dua rakaat, seraya memohon taufik dan hidayah kepada Tuhan. Setelah itu, duduk bersila dengan sopan dan merendahkan diri kepada-Nya, menghadap ke arah kiblat dan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut lalu mengucapkan dzikir yang berbunyi laa ilaha illallah dengan menghadirkan maknanya dalam hati. Berikutnya kalau zikir dalam bentuk ini telah mantap beralih lagi ke lafal lain dengan hanya menyebut Allah, Allah, Allah, dan seterusnya dan zikir yang seperti ini dapat dilaksanakan di sepanjang waktu dan keadaan sehingga pada setiap nafas yang ke luar diisi dengan zikir. Pada saat menyebut kata hu pada setiap akhir kalimat tauhid, hendaklah dipanjangkan sedikit sambil merasakan bahwa dirinya lenyap, begitu pula dengan ingatannya kepada yang lain, selain kepada Allah (ma siwallah) dan kulliyah (jati dirinya) karena berada di dalam keesaan zat Allah yang nantinya akan memperoleh jazbah (tarikan) Allah. Inilah perolehan jiwa yang paling utama yang semuanya itu merupakan hasil kasyaf.
Tatacara dan adab berzikir yang dikemukakan dalam Risalah Kanz al- Marifah ini tidak jauh berbeda dengan tatacara dan adab zikir yang dijelaskan dalam kitab Tanwir al-Qulub, karangan Syekh Muhammad Amin Kurdi, yang terdiri dari 11 adab, yakni:
1. sebelum berzikir harus bersuci dari hadas dengan berwudhu
2. mengerjakan shalat sunnat dua rakaat
3. menghadap kiblat ditempat yang sunyi
4. duduk tawaruk seperti duduk tawaruk dalam shalat
5. mohon ampunan kepada Allah dari semua kesalahan dan dosa, sambil membayangkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian mengucapkan istigfar (astaghfirullah)
6. membaca surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlas yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Saw
7. memejamkan kedua mata untuk mencapai kekhusyuan yang sempurna
8. rabithah qubur, yakni membayangkan bahwa seakan-akan sudah meninggal dunia dan berada dalam kubur sendirian, sehingga yang berguna pada saat itu hanyalah amal shaleh, amal ibadah, dan amal jariyah atau shadaqah.
9. rabithah mursyid, yaitu membayangkan guru (mursyid) yang mem-bimbing dan menjadi wasilah
10. memusatkan semua pancaindera (konsentrasi) untuk tertuju hanya kepada Allah
11. bersikap waspada dan tetap mengagungkan Allah dengan mengucap Allahu Akbar.
F. Penutup
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan.
Pertama, berdasarkan versi cetak, Kitab Parukunan Jamaluddin ini dinyatakan dikarang oleh Mufti Jamaluddin. Namun berdasarkan tutur lisan masyarakat Banjar dan kemudian ditegaskan oleh Abu Daudi dalam bukunya, kitab parukunan ini dihimpun atau ditulis oleh Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis. Menurut penulis, dengan melihat konteks sejarahnya dan berdasarkan argumen yang tekah dikemukakan di atas, maka penulis lebih condong mengikuti tutur lisan masyarakat Banjar dan menyatakan bahwa kitab ini memang karangan atau dihimpun oleh Fatimah untuk dijadikan pegangan dalam mengajarkan Islam kepada kaumnya. Namun, karena berbagai faktor, maka kemudian penulisan nama pengarang kitab dinisbahkan kepada nama Mufti Jamaluddin yang merupakan paman dari Fatimah. Oleh sebab itu, menurut penulis lebih pas jika kitab ini disebut Kitab Parukunan Fatimah.
Kedua, walaupun memiliki kemiripan dari segi pembahasan, karena ditulis dari sumber yang sama, tetapi Kitab Parukunan Jamaluddin ini berbeda dengan Parukunan Melayu Besar yang dihimpun oleh H. Abdul Rasyid Banjar yang sebagian materinya diambil dari kitab Sabil al-Muhtadin.
Ketiga, sebagaimana dinyatakan oleh pentashihnya, kitab Parukunan Jamaluddin ini adalah kitab fikih Syafii berbahasa Jawi (Melayu), namun di dalamnya juga membahas tentang masalah rukun iman (ketauhidan) dan tasawuf. Masalah ketauhidan mengemukakan tentang keimanan kepada Allah, Nabi Muhammad Saw, siksa kubur, titian Sirath al-Mustaqim, sorga dan neraka. Sedangkan masalah tasawuf mengungkapkan tentang sifat-sifat terpuji atau maqamat yang harus dilalui oleh orang yang ingin makrifat kepada Allah, seperti berkenaan dengan masalah khauf (takut), raja (harap), istigfar (taubat), zikir, sabar, dan tawakkal, serta esensi dari zikir.

Daftar Pustaka
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara sAbad XVII dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994.
Aboebakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat, Ramadhani, Solo, 1990.
Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Tuan Haji Besar, Sekretariat Madrasah Sullamul Ulum, Dalam Pagar-Martapura, 1996.
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999.
Hasan Amir Bondan, Suluh Sedjarah Kalimantan, Percetakan Karya, Banjarmasin, t.th.
Karel S. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.
Kitab Parukunan Besar Melayu, Penerbit Duatiga Putra al-Maarif, t.th.
Kitab Parukunan Jamaluddin, Al-Haramain, Singapura, t.th.
Mohammad Rifai, Thareqat Asy-Syadziliyah: Langkah-langkah dan Amaliyahnya, CV. Wicaksana, Semarang, 2005.
M. Asywadie Syukur, Perkembangan Ilmu Keislaman di Kalimantan, Makalah Seminar: On Islamic References in the Malay World, di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, tanggal 2-6 Agustus 2001.
Risalah Kanz al-Marifah, t.p.
Wan Mohd. Shagir Abdulllah, Mufti Jamaluddin al-Banjari Ahli Undang-Undang Kerajaan Banjar. http://sabrial.wordpress.com/tag/ulama-banjar/. Diakses pada tanggal 14 September 2007.
Zafry Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary sebagai Ulama Juru Dakwah, dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad ke-13 H/18 M dan Pengaruhnya di Asia Tenggara, Percetakan Karya, Banjarmasin, 1974.
Zulfa Jamalie, (ed.), Biografi dan Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Matahari Islam Kalimantan, Pusat Pengkajian Islam Kalimantan, Banjarmasin, 2005.
Zulfa Jamalie, Perjuangan Tokoh Membumikan Islam di Tanah Banjar, Ceprus, Banjarmasin, 2005.
———, Mengungkap Riwayat dan Perjuangan Dakwah Syekh Abdul Wahab Bugis di Tanah Banjar, Jurnal Khazanah, Vol. IV, Nomor 01, Januari-Februari 2005, IAIN Antasari Banjarmasin.
———, Generasi Emas Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Keturunannya, Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar (elkisab), Banjarmasin, 2007.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post