Tradisi Batatamba

18 Jul 2011

BATATAMBA:

RITUAL PENGOBATAN TRADISIONAL DALAM

MASYARAKAT BANJAR

(Dialektika antara Islam dan Budaya)[1]

Zulfa Jamalie[2]

Abstrak

Kajian ini didasari pada pemahaman bahwa pengobatan tradisional pada masyarakat Banjar yang disebut dengan istilah batatamba memiliki keunikan tersendiri. Sakit bagi orang Banjar diklasifikasi menjadi tiga jenis penyakit; sakit medis, sakit psikologis, dan sakit magis. Sakit magis walapun ada hubungannya dengan atau tampak tanda-tandanya pada fisik dan psikis yang sakit, tetapi sakit jenis ini dalam kepercayaan orang Banjar harus diobati secara magis pula dengan cara-cara (ritual) yang khas, persyaratan tertentu (sesajen, piduduk), dan dilakoni oleh seorang seorang pananamba.

Sakit magis dimaknai sebagai sakit yang disebabkan oleh adanya pengaruh atau gangguan dari entitas gaib, makhluk gaib atau orang halus, misalnya kapuhunan, kapidaraan, pulasit, kataguran, kasurupan, dan kapingitan; dikehendaki oleh seseorang sebagai pembalasan atau permusuhan dengan cara memanfaatkan kekuatan atau makhluk gaib; teluh, santet, atau guna-guna (parang maya), dan lain-lain. Dengan kata lain, sakit ini timbul karena ketidakharmonisan hubungan antara manusia dengan alam gaib. Dalam konteks yang demikian, kehadiran seorang pananamba menjadi sangat penting.

Bagi masyarakat Banjar, pananamba merupakan tokoh kunci dalam ritual pengobatan, karena kemampuannya dalam memberikan pertolongan dan pengobatan, baik penyakit yang bersifat fisik maupun mental. Kepandaian dan kemampuannya dalam memahami pesan dan simbol gaib menjadikan ia arif dalam memberikan pengobatan dan mengharmoniskan kembali hubungan manusia dengan dunia gaib. Maknanya, pananamba tidak lahir begitu saja, tetapi ia dianggap sebagai seorang yang memiliki semacam mana, tuah, atau kekuatan magis untuk memberi tawar sekaligus berhubungan dengan dunia gaib. Kemampuan itu diperoleh karena keturunan (geneologis), memiliki sahabat dari alam gaib (bagampiran), atau karena intensitas ibadah dan pendekatan dirinya kepada Tuhan.

Kata-kata Kunci: Pengobatan tradisional, sakit magis, ritual batatamba, pananamba, roh halus, dan makhluk gaib.

1. Pendahuluan

Tesis Alfani Daud (1997) menyatakan bahwa ajaran Islam bukanlah satu-satunya referensi bagi kelakuan religius orang Banjar, begitu pula dengan ritus dan upacara yang dijalankan. Itulah sebabnya, kepercayaan terhadap unsur magis dunia gaib tidak bisa dilepaskan dari keseharian hidup masyarakat Banjar. Misalnya dalam konteks memaknai sakit dan ritual pengobatan yang mesti dilakukan.

Dalam masyarakat Banjar, prosesi pengobatan tersebut dinamakan dengan istilah batatamba.[3] Secara etimologis, batatamba dalam bahasa Banjar berasal dari kata tamba atau tatamba yang bermakna obat; batatamba berarti berobat atau berdukun; mananambai bermaksud mengobati atau menyembuhkan; dan pananamba berarti orang yang memberikan pengobatan (Djebar Hapip, 2008: 180).

Batatamba memiliki keunikan tersendiri dan local wisdom (local genius)[4] yang terwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Syamsiar Seman (2005), batatamba dalam masyarakat Banjar sangat unik, karena selain menggunakan ramuan-ramuan tradisional dan mantera-mantera dari seorang pananamba (tabib), batatamba juga menggunakan benda-benda tertentu sebagai syarat pengobatan, misalnya kain Sasirangan yang dililitkan di kepala (laung) atau diselimutkan di badan untuk menyembuhkan sakit kapingitan atau sakit panas. Karena, batatamba dalam konteks ini tidak hanya berhubungan dengan sakit yang bersifat medis atau sakit psikologis, tetapi berkaitan pula dengan sakit magis,[5] yakni sakit yang disebabkan oleh adanya pengaruh-pengaruh dari unsur, kekuatan, atau entitas gaib.[6] Dikonsepsikan bahwa gejala anak-anak yang sering kencing (pangamihan) misalnya, walaupun sudah dibawa berobat ke dokter tetapi tidak sembuh-sembuh. Gejala ini merupakan pertanda adanya teguran dari dunia gaib bahwa si anak harus memakai kalung kuno atau kalung picis (dari uang logam zaman dahulu); gejala badan anak yang panas terus-terusan (mariap dingin) merupakan pertanda si anak kapidaraan[7] sehingga harus dipidarai dengan mencecahkan tanda cacak burung; badan anak kurus seperti kekurangan gizi padahal diberi asupan air susu ibu dan gizi yang cukup, pertanda anak diganggu (diisap) hantu bunyu sehingga harus dipakaikan gelang picis; jodoh terkunci sehingga lambat kawin harus dimandikan dengan air kembang tujuh rupa dan kain tiga warna; atau pula kapuhunan,[8] kataguran,[9] pulasit,[10] kasurupan,[11] kerasukan, atau ditabun[12] makhluk gaib; kena parang maya (guna-guna, santet, atau teluh); terkena tuah makhluk gaib; adalah di antara jenis sakit yang disebabkan oleh pengaruh dunia gaib.

Alfani Daud (1997) mengklasifikasikan timbulnya penyakit magis dengan penyebabnya kepada empat kelompok, yakni penyakit magis yang disebabkan oleh gangguan arwah (roh) kerabat dekat yang sudah meninggal,; gangguan roh nenek moyang yang diwakili oleh muwakkalnya (sahabatnya); gangguan orang gaib (makhluk halus); perbuatan magis orang lain (dukun). Sehingga proses pengobatannya pun harus didekati dengan pengobatan magis.[13]

2. Posisi dan Fungsi

Kepercayaan terhadap jenis penyakit magis (selain sakit medis dengan pengobatan modern atau herbal dan sakit psikologis dengan terapi kejiwaan) memicu persepsi bahwa ia hanya boleh disembuhkan setelah dilakukan ritual batatamba (pengobatan) dengan bantuan seorang tabib tradisional (pananamba) yang memiliki kemampuan memberi tawar magis.

Orang Banjar memahami bahwa tawar magis (kekuatan magis; kekuatan gaib; atau kemampuan gaib) sehingga bisa membaca dan berkomunikasi dengan alam gaib dan seterusnya atau digunakan untuk memberikan pengobatan tersebut didapat karena tiga sebab. Pertama, secara geneologis dia memiliki garis keturunan (tutus) sebagai seorang pananamba. Kedua, sebagai anugerah dari Tuhan setelah dia lulus menjalani ritual serta prosesi tertentu untuk meraih kemampuan tersebut (misalnya dengan balampah), atau meditasi, wiridan, tirakat, puasa, dan sebagainya. Ketiga, karena ketinggian ilmu agama yang dimiliki dan amal ibadahnya, misalnya tuan guru atau alim ulama (Zulfa Jamalie, 2008).

Alfani Daud (1997) menyatakan bahwa kekuatan atau keterampilan, bahkan juga kewibawaan yang dimiliki seseorang konon bukan semata-mata diperoleh dengan belajar, melainkan dapat pula terjadi berkat kekuatan gaib yang ada pada dirinya, karena ilmu gaib yang diwarisinya atau karena adanya makhluk gaib yang menopangnya. Selain itu, orang yang mempunyai keterampilan khusus atau mempunyai keistimewaan dibandingkan orang lain; seperti seniman wayang, seniman topeng, ulama, atau tokoh berwibawa di kalangan bubuhan dianggap mempunyai potensi (kemampuan) untuk mengobati. Hal ini nampaknya berkaitan dengan kekuatan gaib yang diduga ada padanya atau adanya makhluk gaib yang menopangnya (menggampiri).

Dalam stratafikasi[14] masyarakat Banjar, pananamba dikelompokkan sebagai seorang yang memiliki kemampuan berhubungan dengan dunia gaib dan atau mereka yang memiliki semacam tuah atau mana,[15] baik karena adanya gampiran atau bagampiran,[16] paaliran, guru-guru agama, maupun mereka yang telah lulus dalam menjalani lelaku balampah,[17] meditasi, wiridan, tirakat, puasa, dan sebagainya. Oleh itu, dalam masyarakat Banjar, tabib atau pananamba merupakan tokoh penting dalam ritual pengobatan,[18] karena kemampuannya dalam memberikan pertolongan dan pengobatan, baik penyakit yang bersifat fisik maupun mental (Sunarti, 1978).

Dalam tulisan yang berjudul Pembomohan dan Kebertahanannya: Suatu Tinjauan Kritis, Azhar Ibrahim Alwee (2006) menyatakan bahwa dalam masyarakat Melayu tradisional, institusi bomoh, pawang atau dukun adalah di antara institusi sosial yang dihormati. Selain penghulu dan imam atau bilal, bomoh adalah salah seorang tokoh pemimpin masyarakat yang disegani. Oleh itu, kepercayaan pada pengobatan bomoh ataupun shamanism adalah sebahagian daripada collective representation dalam setiap masyarakat tradisional, yakni kepercayaan tentang myths, superstition, magic, occultism, religious practices, customs, habits, behavior, events and things.

Tak jauh berbeda, dalam penelitian yang berjudul Peran seorang Tabib dalam Pengobatan Penyakit Pada Tradisi Suku Dayak di Kalimantan (Balian) dan Kitab Sirakh (38: 1-15): Suatu Perbandingan dikatakan bahwa di kalangan masyarakat Suku Dayak di Tanah Landak (Kalimantan Barat) tabib atau balian berperan cukup penting dalam menentukan norma-norma hidup kemasyarakatan, termasuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upacara peradatan, siklus kehidupan keluarga, dan terlebih lagi dalam hal pengobatan. Menjalankan profesinya sebagai balian bukan hal yang mudah. Selain banyak pantangan, seorang balian wajib hapal ratusan doa-doa atau mantera (petalian) selama proses pengobatan atau penyembuhan orang sakit. Pada saat melakukan upacara pengobatan, seorang balian umumnya selalu bekerja sama dengan kekuatan roh ilahi di luar dirinya. Dalam hal ini ada dua model yang biasanya dilakukan oleh seorang balian. Pertama, balian kemasukan roh yang menyusup ke dalam dirinya dari bawah atau turun dari atas. Saat terjadi kesurupan, yang dianggap berbicara itu bukanlah diri pribadi, melainkan roh yang telah menguasai tubuhnya. Jadi balian adalah medium antara roh dengan manusia. Kedua, roh gaib yang hendak diminta jasanya itu tidak masuk ke dalam diri medium, malah sebaliknya roh medium itu yang ke luar dari raganya untuk menjelajahi alam roh di wilayah sebelah atas ataupun di bawah untuk memperoleh petunjuk pengobatan yang diperlukan.

3. Proses Batatamba

Bagaimana proses batatamba dilakukan? Secara teknis, tawar magis, tuah atau mana yang dimiliki oleh seorang pananamba biasanya disalurkan melalui kekuatan supranatural dengan bacaan, berupa doa ataupun mantera; tulisan dan simbol untuk menolak bala, misalnya jimat, tanda cacak burung, motif daun jaruju dan banaspati (kala); air penawar (air berkah) yang diminumkan, dimandikan (bamandi-mandi), dibasuhkan ke wajah (batimpungas), dipercikan (dipapai atau ditapungtawari), disemburkan (basambur); atau dengan menggunakan benda-benda tertentu yang diyakini mengandung kekuatan dan ditakuti oleh makhluk gaib, misalnya kain (kain Sasirangan), kain berwarna kuning, cermin, sisir, pisau kecil, rumput jariangau dan bilaran (sejenis tumbuhan), janur dari enau atau kelapa, tali ijuk, benang hitam, daun sirih, bawang merah, sahang (merica), picis, dan lain-lain, sebagaimana diuraikan berikut ini.

3.1 Bacaan doa dan mantera

Orang Banjar meyakini bahwa bacaan-bacaan tertentu berupa doa, zikir, atau tawaudz yang diambil dari Alquran dan Hadis Nabi Saw mengandung kekuatan magis yang bisa menolak pengaruh gaib (yang jahat) atau digunakan untuk menyembuhkan mereka yang terkena gangguan dari makhluk gaib. Ayat-ayat Alquran yang mengandung daya penyembuh terhadap penyakit dan digunakan sebagai pengobatan tersebut dinamakan dengan ayat-ayat syifa.[19]

Ayat-ayat syifa dimaksud antara lain terkandung dalam Alquran surah al-Baqarah 255 (ayat kursi), al-Baqarah 285-286, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, al-Araf 117-119, Yunus 79-82, Thaha 65-69, Taubah 128-129, dan lain-lain. Adapun yang bersumber dari Hadis Nabi Saw antaranya adalah:

??? ???? ????? ?? ???? ?? ???? ??? ?? ????? ??? ?? ?????? ??? ??????? ??????.

Artinya: Dengan nama Allah yang bila nama-Nya disebut, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Kemudian juga, doa yang dibacakan Malaikat Jibril ketika mengobati (meruqyah) Rasulullah Saw, yang artinya adalah sebagai berikut:

Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala yang menyakitkanmu dan dari kejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah dan aku meruqyahmu.

Sebelum Islam masuk dan dianut oleh masyarakat Banjar, bacaan-bacaan yang mereka gunakan untuk mengobati penyakit magis adalah berupa mantra (suwuk). Mantra adalah ujaran-ujaran yang merupakan sumber kekuatan spiritual leluhur pusaka Banjar-Kalimantan (Arsyad Indradi, 2010).

Menurut Arsyad Indradi (2010), mantra pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya. Mantra biasanya hanya merupakan warisan kepada keluarga dan orangorang tertentu.

Setelah masuknya agama Islam di Banjar (Kalimantan), mantra mengalami transformasi, di mana sebelum membaca mantra harus didahului dengan ucapan bismillah dan di akhiri dengan ucapan berkat Lailahailallah Muhammadurrasulullah.

Selanjutnya, Arsyad Indradi (2010) juga mengemukakan beberapa jenis mantra menurut penggunaannya, seperti mantra untuk pengobatan, mantra kedigjayaan-kekuatan, mantra pekasih, mantra pagar diri, dan mantra untuk mencelakai orang lain. Mantra-mantra pengobatan khusus digunakan untuk pengobatan, misalnya mantra yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit sawan, disebut dengan mantra sawan dan mantra untuk membuka jodoh seperti berikut ini.

Bismillahirrahmanirrahim
Tarbang burung
Mulang mansawan
Hinggap kayu mali-mali
Aku tahu asal angkau
Mulang mansawan
Asal uri lawan tambuni
Barakat Lailahailallah Muhammadurrasulillah
(mantra sawan)

Tip tulah kadudukan nang bagantung
Saksi Angkau Allah
Suruh ibu suruh bapa
Ah aku tahu namamu .
Barkat Lailahailallah Muhammadurrasulullah
(mantra jodoh)

Dalam versi yang lain dikatakan pula bahwa mantra sawan dimaksud adalah sebagai berikut:

Allahumma dinding sawan

Naik ka gunung panca rawani

Aku tahu asalnya sawan

Nasab kukus uri tambuni (Alfani Daud, 1997).

3.2 Tulisan dan simbol

Tulisan dan simbol yang digunakan untuk menolak bala, misalnya jimat, tanda cacak burung,[20] motif daun jaruju dan banaspati (kala).[21] Atau gambar simbol swastika, burung enggang, atau naga. Tanda cacak burung misalnya, secara umum, masyarakat Banjar menganggap bahwa makhluk gaib, hantu dan sejenisnya takut dengan simbol ini, yang berbentuk seperti tanda tambah tetapi agak panjang sedikit. Simbol ini biasanya terdapat pada rumah Banjar tradisional dan dipakai untuk menandai rumah yang baru dibangun. Biasanya dituliskan pada bagian dinding, tiang empat sudut, pintu atau kaca jendela rumah. Bahkan, Simbol ini juga dituliskan oleh seorang pananamba ketika mengobati seorang anak atau balita yang kapidaraan (Djebar Hapip, 2008: 140). Tanda cacak burung tersebut seolah-olah seperti tanda pemisah antara alam nyata dan alam gaib. Tampaknya, dengan melihat tanda tersebut, orang-orang gaib diberitahu untuk maklum dan tidak mengganggu.

Di samping itu, juga digunakan tulisan berupa kaligrafi Islam yang diambil dari Alquran atau simbol bertuliskan huruf Arab untuk mencegah gangguan makhluk gaib. Kaligrafi atau khat yang umumnya dituliskan adalah kalimat-kalimat seperti bismillah (Bismillahirrahmanirrahim); kalimat syahadat (Laailahaillah Muhammadurrasulullah); dan Shalawat Nabi (Allahumma shalli ala Muhammad wa ala aali Muhammad). Tulisan-tulisan tersebut diletakkan di atas pintu rumah atau jendela atau dinding ruangan rumah atau diukir (ornament) pada bagian-bagian tertentu dari rumah, misalnya tawing halat (dinding pembatas) . Sedangkan yang berupa simbol, biasanya ditulis di atas kertas (kemudian dibungkus dengan kain kuning atau hitam) atau di atas kain (misalnya di atas baju) disebut wafak, wifik, hizb, atau rajah. Wafak tersebut kemudian dijadikan sebagai atau semacam jimat[22] dan babatsal.[23]

Terkadang, simbol-simbol tersebut secara langsung ditulis (dirajahkan) pada tubuh seseorang yang sedang ditambai. Proses perajahan ini terbagi tiga bagian, yakni tulis, usap, dan tiup. Setiap kali penulisan, pengusapan, maupun tiupan selalu diiringi dengan bacaan tertentu.

3.3 Air penawar

Air penawar dimaksud atau disebut dengan air berkah biasanya ada yang diminumkan, dimandikan (bamandi-mandi), dibasuhkan ke wajah (batimpungas), dipercikan (dipapai atau ditapungtawari), disemburkan (basambur).

Orang Banjar memahami bahwa pada prinsipnya air berkah adalah air yang mengandung berkah atau kebaikan, karena telah dibacakan bacaan-bacaan tertentu (misalnya ayat-ayat Alquran atau doa) oleh seseorang (ulama atau guru agama, pananamba) atau sekelompok orang dalam sebuah upacara (misalnya dalam acara Yasinan, shalawatan, peringatan hari besar keagamaan, dan lain-lain). Karena itu, air berkah diyakini mengandung semacam tuah atau mana yang mengandung khasiat untuk mengobati penyakit-penyakit yang bersifat magis.

Dalam prosesi batatamba, air berkah yang diberikan oleh seorang pananamba sebagai media penyembuhan dapat di-kelompokkan kepada beberapa bagian.

Pertama, air berkah yang digunakan untuk penyembuhan atau mengobati sakit, baik sakit yang berhubungan dengan atau bersifat medis maupun magis, atau psikologis. Sakit yang bersifat medis, mulai dari yang ringan sampai yang berat, seperti sakit panas, sakit kepala, masuk (angin kampar, angin samak), sakit kuning, hepatitis, kanker, dan sebagainya. Untuk sakit yang berat, tampaknya air berkah berfungsi sebagai pembantu atau mem-percepat proses penyembuhan setelah mereka yang sakit menjalani terapi pengobatan secara medis, sedangkan untuk sakit yang ringan, air berkah betul-betul digunakan dan diyakini mampu menyembuh-kan sakit.

Kedua, air berkah yang digunakan untuk mengobati mereka yang sakit karena kena guna-guna (santet atau teluh)

Ketiga, air berkah yang digunakan untuk mengobati gangguan psikologis, misalnya mereka yang terkena stress, susah tidur (insomnia), takut terhadap terhadap sesuatu secara berlebihan (phobi), dan lain-lain.

Keempat, air berkah yang digunakan untuk pengobatan terhadap mereka yang diganggu oleh makhluk gaib, jin atau setan (makhluk halus), seperti kasurupan, karasukan, atau kapuhunan, badan anak kurus dan mengecil karena diisap bunyu (sejenis makhluk halus), melihat atau disapa orang gaib sehingga ketakutan (kataguran, kariyaw, kapidaraan), disembunyikan orang atau disesatkan oleh orang gaib (ditabun hantu), remaja putri yang kena pulasit, dan sebagainya.

Kelima, air berkah motivasi yang digunakan agar anak tidak nakal, agar anak terang hatinya dan kuat ingatan dalam belajar (cadatan), agar anak mudah dan cepat menerima pelajaran (tidak pambabal), agar anak menjadi rajin, penurut, dan sebagainya (Zulfa Jamalie, 2008).

Untuk sakit yang berada dalam kategori berat, air berkah biasanya dipadukan dengan teknik yang lain.

Pertama, ada yang dipadukan dengan cara mandi dan barajah, pemakaian wafak, dan seterusnya. Teknik seperti ini biasanya dilakukan terhadap mereka yang terkena gangguan orang gaib atau kena guna-guna, karena setelah diberi air berkah mereka tetap belum sembuh, sehingga perlu diberi tindakan lanjut.

Kedua, bagi mereka yang menguasai ilmu tenaga dalam, pengobatan dilakukan dengan mengalirkan tenaga murni (prana) yang berfungsi untuk membantu penyembuhan atau membuka aliran-aliran darah yang tersumbat, memperlancar peredaran darah, dan sebagainya.

Ketiga, bagi mereka yang herbalits, yakni mereka yang menguasai teknik pengobatan herbal dengan menggunakan berbagai macam tumbuhan (batang, kulit, akar, daun, buah, kembang) yang telah diolah (diramu) sedemikian rupa, maka pemberian air berkah dipadukan dengan teknik ini untuk mengobati sakit yang bersifat medis. Pengobatan jenis inilah yang belakangan ini populer dan ramai dilakukan oleh kalangan tertentu diberbagai daerah. Pengobatan jenis seperti ini disebut pula sebagai pengobatan alternatif (Zulfa Jamalie, 2009).

3.4 Benda Magis

Secara umum, masyarakat Banjar mempercayai empat jenis kelompok benda-benda yang dianggap mengandung kesaktian, kelebihan, tuah, atau kekuatan magis. Pertama, kekuatan atau tuah yang ada besi (wasi), misalnya wasi tuha, wasi kuning, keris, parang bungkul, tombak, badik, dan taji. Kedua, kekuatan atau tuah yang ada pada jimat, baik jimat yang diolah (seperti wafak, babatsal, baju rajah, cemeti) maupun jimat alamiah, seperti picis mimang, rantai babi, tabuan pipit, dan lain-lain. Ketiga, kekuatan atau tuah yang ada pada batu, misalnya batu akik (yang berfungsi sebagai tuah untuk membuka pintu dan memperlancar rejeki, menambah besar pengaruh dan tuah, penolak bencana, pemanis bagi laki-laki dan wanita yang memakainya dan batu jambrut (yang berfungsi sebagai alat untuk menundukkan orang, pemanis bagi si pemakai atau menambah besar pengaruh). Keempat, kekuatan atau tuah yang ada pada tumbuh-tumbuhan, inilah yang biasa dipakai dalam rangka pengobatan (Deni Arisandi, 2009).

Dengan demikian jelas bahwa orang Banjar mempercayai bahwa berbagai benda, termasuk binatang atau tumbuh-tumbuhan dan bacaan tertentu mempunyai tuah, khasiat, atau kegunaan tertentu. Demikian pula orang, binatang, atau tumbuh-tumbuhan dan mungkin juga benda-benda lain mempunyai diri yang lain yang dinamakan sumangat, ngaran, raja, dan ngaran raja (Alfani Daud, 1997).

Oleh itu, dalam rangka untuk mencegah gangguan dari makhluk gaib atau memberikan pengobatan kepada si sakit, pananamba biasanya menggunakan benda-benda tersebut karena diyakini mengandung kekuatan atau tuah dan ditakuti oleh makhluk gaib, misalnya kain (kain Sasirangan),[24] kain berwarna kuning, cermin, sisir, pisau kecil, rumput jariangau dan bilaran (sejenis tumbuhan), janur dari enau atau kelapa, tali ijuk,[25] benang hitam,[26] daun sirih, bawang merah,[27] merica, dan lain-lain.

Misalnya penggunaan kain sasirangan yang dipercaya mempunyai kekuatan magis yang dapat digunakan untuk men-dukung pengobatan (batatamba), khususnya mengusir roh-roh jahat. Selain dapat menyembuhan, kain ini juga diyakini dapat menjadi alat pelindung badan dari gangguan makhluk halus. Dalam konteks pengobatan, kain Sasirangan yang berfungsi sebagai benda magis (Tajuddin Noor Ganie, 2009) digunakan sebagai prasyarat dari tatambaan, sehingga disebut dengan kain pamintaan (permintaan), yakni selembar kain putih yang diberi warna dan motif tertentu atas permintaan orang yang berobat (sesuai petunjuk pananamba) kepada seorang pembuat kain Sasirangan (Syamsiar Seman, 2005). Oleh karena itu, pada zaman dahulu kala, orang sudah mengetahui jenis penyakit yang diderita seseorang dari genre atau jenis kain sasirangan yang dikenakannya, tidak hanya sakit magis, tetapi juga sakit medis, seperti:

3.4.1 Sarung sasirangan (tapih bahalai) dikenakan sebagai selimut untuk mengobati penyakit demam atau gatal-gatal;

3.4.2 Bebat sasirangan (babat) yang dililitkan di perut dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diare, disentri, kolera, dan jenis penyakit perut lainnya;

3.4.3 Selendang sasirangan (kakamban) yang dililitkan di kepala atau disampirkan sebagai penutup kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain);

3.4.4 Ikat kepala sasirangan (laung) yang dililitkan di kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah atau migrain (Tajuddin Noor Ganie, 2009).

Atau pula kain sarigading yang dililitkan diperut untuk mengobati sakit perut atau diare; kalung picis untuk mengobati air liur yang keluar dari mulut (baliuran); gelang picis untuk mencegah dan mengobati anak yang diganggu (diisap) hantu bunyu; kalung zakar (kalung babutuhan) untuk mengobati lecet pada daerah kemaluan anak laki-laki, dan lain-lain.

Deni Arisandi (2009) menambahkan beberapa jenis tumbuhan yang dipercaya oleh masyarakat Banjar memiliki tuah, ditakuti oleh makhluk gaib, dan berfungsi tidak hanya untuk mengobati penyakit magis, tetapi untuk menjaga, menolak, dan bahkan terkadang juga digunakan untuk menyerang (mencelakakan) orang lain, antaranya:

a. Daun jariangau, bawang tunggal, kayu Palawan; berfungsi sebagai alat pengusir hantu kuyang[28] yang sering menggangu wanita melahirkan atau anak balita;

b. Ijuk enau yang telah dijalin jadi tali, kayu sapang, merica sebagai alat untuk menolak serangan hantu pulasit;

c. Daun linjung merah yang biasa tumbuh di areal pekuburan biasanya sebagai alat ampuh untuk memarang (membalas serangan musuh) ketika melakukan parang maya; [29]

d. Daun dan akar kayu teja barfungsi untuk mengganggu dan menghancurkan atau merusak kesejahteraan satu keluarga;

e. Jantung pisang sebagai alat untuk melakukan parang maya untuk menghancurkan orang lain.

Di samping cara-cara di atas, guna mencegah dan menyembuhkan penyakit magis, dalam masyarakat Banjar bisa pula penyembuhan dilakukan dengan mengadakan (menggelar) atau manyampir upacara kesenian tradisional Banjar, seperti kesenian madihin, topeng, manyampir wayang, atau lamut. Dalam konteks ini, kesenian tradisional Banjar tersebut berfungsi sebagai media penyembuhan atau pengobatan penyakit magis. Untuk lamut atau balamut misalnya, yang berfungsi untuk pengobatan dinamakan dengan lamut batatamba.

Lamut batatamba berfungsi sebagai pengobatan adalah untuk anak yang sakit panas yang tidak sembuh-sembuh, atau ada orang yang sulit melahirkan dan lain-lain. pertunjukan lamut batatamba haus disertai dengan sejumlah persyaratan, yaitu piduduk yang terdiri dari perangkat piduduk (sesaji), kemenyan atau perapin (dupa), beras kuning, garam, kelapa utuh, gula merah, dan sepasang benang-jarum. Setelah itu dilakukan tapung tawar dengan mahundang-hundang (mengundang) roh halus, membacakan doa selamat, dan memandikan air yang telah didoakan kepada si sakit.

4. Pemaknaan dan Akulturasi

Alfani Daud (1997) mensinyalir bahwa ritual batatamba itu sendiri oleh dipengaruhi oleh kepercayaan orang Banjar yang berhubungan dengan pemaknaan mereka atas alam lingkungan sekitarnya. Bagi mereka, hutan misalnya bukan hanya dihuni oleh hewan-hewan liar semata, melainkan dihuni pula oleh orang-orang gaib, macam gaib, datu, dan sebagainya. Itulah sebabnya, alam (hutan, gunung, rawa, sungai, dan sebagainya) harus diperlakukan dengan baik, dan apabila hendak dimanfaatkan harus terlebih dahulu dilakukan ritual-ritual tertentu untuk penghormatan; permintaan izin; dan permohonan kesuburan tanah serta keberhasilan akan usaha yang dikerjakan. Misalnya, selamatan padang sebelum memulai kegiatan bertani atau berhuma; ritual aruh ganal[30] (panen raya) atas keberhasilan pertanian; ritual manyanggar banua[31] (selamatan bumi) agar daerah tempat tinggal diberkahi dan selamat dari segala marabahaya; ritual mambuang pasilih[32]; dan sebagainya. Karena, apabila mereka tidak berizin dan kemudian tertimpa musibah atau sakit (kapuhunan), maka sakitnya itu disebabkan oleh pengaruh makhluk gaib dimaksud.

Biasanya orang Banjar memberi nasihat kepada anaknya untuk tidak bermain di tempat-tempat yang angker atau meminta ijin kepada para penunggu tempat angker agar terhindar dari marabahaya. Sehingga menjadi satu etika (sekaligus nasihat) yang diwariskan oleh orang tua bahari kepada anak cucunya dalam masyarakat Banjar, agar mereka berhati-hati apabila bepergian ke tengah hutan atau ke daerah-daerah tertentu yang dianggap angker dan jarang didatangi oleh manusia. Di samping itu, mereka juga diharuskan untuk meminta ijin kepada penghuni gaibnya yang berdiam di daerah tersebut dan biasanya dipanggil Datu.[33] Misalnya hendak mengambil kayu bakar atau menebang pohon di hutan:

Datu, ulun umpat manabang pohonlah

Andika malihat, Andika bajauh

ulun kada malihat.

Tentu saja, semua itu ditujukan agar mereka terhindar dan tidak terkena bahaya, sakit atau gangguan orang gaib sebagaimana disebutkan di atas.

Etika tak tertulis berupa pemahaman seperti ini kemudian berakulturasi setelah Islam datang. Di mana, Islam memang mengajarkan dan mengakui keberadaan makhluk gaib (setan atau jin) yang berdiam di hutan, di gunung, di lautan, padang pasir, dan sebagainya. Karenanya, sebelum memasuki daerah-daerah yang biasanya dihuni oleh bangsa jin, umat Islam dianjurkan untuk membaca bismillah dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.[34]

Akulturasi tersebut juga menyentuh kepercayaan dan pemahaman terhadap pelbagai ritus yang lain, termasuk batatamba. Apabila sebelum Islam datang untuk ritual pengobatan tersebut dibacakan mantera, maka kemudian ia berubah dan dibacakan doa sebagai penggantinya atau ditambahkan kalimat syahadat pada akhir mantra; penggunaan ukiran kaligrafi yang menggantikan simbol penolak bala; wafak yang bertuliskan ayat-ayat Alquran; Yaasin untuk penghalat (pembatas) agar terhindar dari gangguan makhluk gaib, dan sebagainya. Sehingga terjadi perpaduan antara unsur-unsur budaya dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Banjar sebelum Islam datang dengan unsur-unsur Islam dalam ritual batatamba dimaksud.

5. Penutup

Batatamba sebagai proses yang unik dalam masyarakat Banjar terwariskan dari generasi ke generasi dan dalam perkembangannya telah berakulturasi secara dinamis. Karenanya wajar apabila dalam prosesi batatamba masih didapati lagi unsur dan pengaruh dari kepercayaan nenek moyang (animisme dan dinamisme), pengaruh kepercayaan dan ajaran agama Hindu-Budha, walaupun dalam kenyataannya Islam sejak beberapa abad yang lalu (sejak pemerintahan pertama Kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah) telah resmi diakui dan dianut oleh orang Banjar, sehingga kemudian Islam menjadi identitas utama orang Banjar. Inilah yang disinggung oleh Alfani Daud (1997) bahwa ajaran Islam bukanlah satu-satunya referensi bagi kelakuan religius orang Banjar, begitu pula dengan ritus dan upacara yang dijalankan. Artinya, pengaruh-pengaruh kepercayaan yang lain (dalam bentuk budaya) masih tampak dan terwariskan pada generasi sekarang, yang dinamakan dengan transformasi, akulturasi, interaksi, atau dialektika antara agama dan budaya

Berkenaan dengan interaksi atau dialektika antara agama dan budaya ini, Kuntowijoyo (2001: 196) menyatakan bahwa sebagai sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi, karena pada keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan; sedangkan kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.

Kuntowijoyo (2001) juga menegaskan bahwa interaksi antara agama dan kebudayaan itu dapat terjadi dengan tiga cara. Pertama, bahwa agama mempengaruhi kebudayaan dalam hal pembentukannya; nilainya adalah agama, tetapi simbolnya adalah kebudayaan, contohnya adalah bagaimana shalat mempengaruhi bangunan. Kedua, agama dapat mempengaruhi simbol agama; dalam hal ini kebudayaan Indonesia mempengaruhi Islam dengan pesantren dan kiai yang berasal dari padepokan dan hajar. Ketiga, kebudayaan dapat menggantikan sistem nilai dan simbol agama.

Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan, yaitu, keduanya adalah sistem nilai dan sistem simbol dan keduanya mudah sekali terancam setiap kali ada perubahan. Agama, dalam perspektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan tata sosial serta memahamkan dan menafsirkan dunia sekitar. Sementara seni tradisi merupakan ekspresi cipta, karya, dan karsa manusia (dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas, wawasan filosofis dan kearifan lokal (local wisdom). Baik agama maupun kebudayaan, sama-sama memberikan wawasan dan cara pandang dalam menyikapi kehidupan agar sesuai dengan kehendak Tuhan dan kemanusiaannya. Oleh itu, yang dikehendaki dari terjadinya dialektika antara agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sama-sama menguntungkan, bukan hal-hal yang menegangkan, apalagi merugikan. Sebab, harmonisasi antara keduanya; agama akan memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan pemahaman terhadap agama.


Referensi

Abdul Djebar Hapip. (2006). Kamus Banjar Indonesia. Banjarbaru: PT. Grafika Wangi Kalimantan.

Abdurrahman Wahid. (2001). Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. Jakarta: Desantara.

Ahmad Fikri. (2009). Relasi Islam dan Budaya Islam Lokal dalam Tradisi NU. (Publish, 8 Nopember 2009; Akses, 27 september 2010).

http://buntetpesantren.org/

Alfani Daud. (1997). Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Anjar Nugroho. (2002). Gagasan Pribumisasi Islam: Meretas Ketegangan Islam dengan Kebudayaan Lokal, Jurnal Ilmiah Inovasi, No.4 Th.XI/2002.

Arsyad Indradi. (2009). Mantra Orang Banjar. (Publish, 2009; Akses, 22 Oktober 2010).

http://arsyadindradi.net/mantra-orang-banjar/

Aslam Hady. (1986). Pengantar Filsafat Agama. Jakarta: CV. Rajawali.

Dadang Kahmad. (2000). Metode Penelitian Agama. Bandung: Pustaka Setia.

Damianus Siyok, Erma S. Ranik, Thomas Tion, Tony Kusmiran. (2002). Fenomena Tabib-Tabib Dayak, Kalimantan Review, No. 85/Th. XI/September 2002, h.31.

Deni Arisandi. (2009). Jimat Orang Banjar. (Publish, 21 Oktober 2009; Akses, 9 April 2010).

http://deniarisandi.co.cc/?p=40

Harun Nasution. (1975). Falsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Hermansyah. (2010). Ilmu Gaib di Kalimantan Barat. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Jadul Maula. (2008). Islam dan Transformasi Budaya Lokal. Makalah, disajikan dalam Annual Conference on Islamic Studies (ACIS).

Khamami Zada, dkk. (2003). Islam Pribumi: Mencari Wajah Islam Indonesia. Yogyakarta: LKiS.

Kuntowijoyo. (2001). Muslim Tanpa Masjid, Essai-essai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Mizan.

Maman, dkk. (2006). Metodologi Penelitian Agama. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Marwan. (2001). Manakib Datu Suban dan Para Datu. Kandangan: Toko Buku Sahabat.

Sartini. (2009). Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafat, (Publish, 25 Maret 2009; Akses, 17 Oktober 2010.

http://www.wacananusantara.org/

Sunarti. (1978). Sastra Lisan Banjar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suriansyah Ideham, M. (2007). Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Kalimantan selatan.

Syamsiar Seman, M. (2005). Sasirangan Kain Khas Banjar. Banjarmasin: Lembaga Pengkajian dan Pelestarian Budaya Banjar Kalimantan Selatan.

Tajuddin Noor Ganie. (2009). Kekuatan Magis di Balik Warna Kain Sasirangan, (Publish, 9 Februari 2009; Akses, 11 Oktober 2010).

http://tajudinnoorganie.blogspot. com

———. 2009. Fungsi Magis Kain Sasirangan, (Publish, 1 April 2009; Akses, 11 Oktober 2010).

http://tajudinnoorganie.blogspot. com

———. 2009. Sejarah Keberadaan Kain Sasirangan, (Publish, 1 April 2009; Akses, 11 Oktober 2010).

http://tajudin noorganie.blogspot.com

Wajidi. (2010). Ornamen Rumah Tradisional Banjar, (Publish, 20 September 2010; Akses, 29 September 2010.

http://bubuhanbanjar.wordpress.com/

Zulfa Jamalie. (2008). Bagampiran dan Kepercayaan Masyarakat Banjar Terhadap Roh, Makalah, Konferensi Antar Universiti se Borneo-Kalimantan ke-4 di Universitas Mulawarman Samarinda, 24-25 Juni 2008.

———. (2008). Menelusuri Jejak Ritual Budaya Mandi Taguh, Artikel, dalam Surat Kabar Harian (SKH) Mata Banua, edisi 16 Mei 2008.

———. (2008). Hantu dalam Pikiran dan Imajinasi Urang Banjar, Artikel, dalam Surat Kabar Harian (SKH) Mata Banua, edisi 24 Juli 2008.

———. (2008). Hantu Kuyang Menurut Pemahaman Urang Banjar, Artikel, dalam Surat Kabar Harian (SKH) Mata Banua, edisi 28 Juli 2008.

———. (2009). Dialektika Agama dan Budaya dalam Tradisi Baayun Anak, Artikel, dalam Surat Kabar Harian (SKH) Mata Banua, edisi 19 Maret 2009

———. (2009). Air Berkah dalam Tradisi Batatamba Masyarakat Banjar, Artikel, dalam Surat Kabar Harian (SKH) Mata Banua, edisi 13 Nopember 2009.


[1]Kertas kerja dibentangkan pada Konferensi Antaruniversiti se Borneo-Kalimantan (KABOKA 6) di Universitas Palangka Raya (UNPAR), 23-24 Mei 2011.

[2]Zulfa Jamalie aktif melakukan kajian, penelitian, sekaligus diskursus tema-tema penting berkenaan dengan Islam, sejarah, dan budaya Banjar.

[3]Umumnya, konsep pengobatan bagi orang Dayak di Kalimantan biasa disebut dengan istilah balian dan pada masyarakat Bakumpai disebut badewa.

[4]Local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam disiplin Antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Menurut Haryati Soebadio, local genius adalah cultural identity, identitas dan kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Moendardjito mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ketut Gobyah menjelaskan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi pada suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meski pun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Sedangkan Swarsi Geriya mengatakan bahwa secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara, dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga (Sartini, 2009).

[5]WHO membedakan jenis pengobatan tradisional berdasarkan cara-cara melakukannya (pengobatan spiritual yang terkait dengan hal gaib dan pengobatan dengan tusuk jarum); berdasarkan obatan-obatan yang digunakan (pengobatan dengan jamu, tumbuhan atau herbal sebagai obat dan pengobatan dengan menggunakan mantra-mantra sebagai medium penyembuhan); dan berdasarkan sifat pengobatannya (pengobatan tradisional yang dipengaruhi oleh tradisi lama, dipelajari, ditulis dan diwariskan, sedangkan yang kedua adalah pengobatan yang dipengaruhi oleh supranatural atau metafisik dan tidak bisa dipelajari dari buku-buku). Karena itu, pengobatan magis boleh pula disebut sebagai pengobatan yang bersifat gaib; pengobatan spiritual; pengobatan supranatural; atau pengobatan metafisik.

[6]Kepercayaan bahwa timbulnya penyakit tidak hanya disebabkan oleh sebab-sebab yang dapat dijelaskan oleh ilmu pengobatan modern tetapi juga disebabkan adanya pengaruh dan gangguan dari dunia atau makhluk gaib seperti setan, jin, dan makhluk gaib lainnya tampaknya menjadi kepercayaan umum masyarakat Kalimantan. Karena itu, dalam melakukan pengobatan mereka tidak hanya berikhtiar melalui pengobatan modern, tetapi juga mendatangi tetua-tetua kampung (dukun) yang dipercayai memiliki kemampuan untuk mengobati (Hermansyah, 2010: 74).

[7]Kapidaraan atau ditegur (kataguran) orang halus (makhluk atau orang gaib), dengan maksud untuk mengajaknya bermain atau apapun, biasanya dialami oleh anak berumur bawah lima tahun (balita) atau bayi. Sedangkan pada kanak-kanak kecil biasanya terjadi akibat penampakan makhluk gaib. Tanpa sengaja anak-anak kecil terkadang melihat kehadiran makhluk halus di suatu tempat, akibatnya mereka mengalami keterkejutan (shock). Untuk mengobati anak kecil yang kapidaraan ini biasanya disembur (disambur) dengan air yang telah dibacakan doa (mantra) kemudian pada bagian tertentu dari tubuhnya, misalnya dahi, telapak tangan, telapak kaki, dada, dan punggung diberi tanda cacak burung (seperti tanda tambah, tetapi agak lebih panjang sedikit) dari kunyit (janar) bercampur kapur sirih. Semakin kuning-kemerahan (orange) campuran antara kunyit dan kapur sirih tersebut, diyakini bahwa kapidaraan anak termasuk semakin berat pula. Ciri anak-anak yang kapidaraan biasanya adalah, suhu badannya panas atau mariap dingin, pada balita atau kanak-kanak biasanya mereka jadi rewel, loyo, tidak bersemangat atau mauyun.

[8]Kapuhunan berarti bahwa seseorang sakit disebabkan oleh hantu (yang dalam konteks ini dihaluskan sebutannya dengan istilah urang halus atau makhluk gaib) yang merasa terganggu oleh keberadaanya pada suatu tempat. Misalnya tidak bisa berjalan, karena kakinya menginjak rumah atau anak orang gaib ketika sedang berada di hutan, mulutnya sakit dan tidak bisa membuka karena meludah sembarang, kencing disembarang tempat, dan sebagainya. Karena itu, kapuhunan dalam konteks ini adalah akibat pembalasan makhluk gaib pada seseorang yang telah mengganggu mereka. Kapuhunan berarti pula kena bahaya atau gangguan, khususnya terjadi pada seseorang yang bepergian ke luar rumah (ke sawah, ke hutan, ke gunung, ketempat kerja) atau dalam perjalanan karena ketidaksampaian/ tidak sempat menikmati suatu makanan. Dalam pengertian ini biasanya juga dikaitkan dengan keberadaan makhluk gaib. Menurut Alfani Daud (1997), mereka yang dalam perjalanan, rentan untuk mendapatkan kapuhunan apabila membawa makanan yang disukai oleh orang gaib, seperti nasi ketan, lemang, dan telur rebus (atau telur yang dipindang dan diasinkan).

[9]Kataguran berarti ditegur atau disapa oleh makhluk gaib, sehingga mengakibatkan orang yang kena tegur tersebut berbicara tidak karuan (maracau atau maranyaw), panas badan, kehilangan semangat, bahkan kesurupan (hilang kesadaran).

[10]Pulasit adalah sejenis hantu atau roh makhluk gaib (urang halus) yang suka merasuki dan menyerang seorang perempuan (biasanya remaja putri) yang lamah bulu, yakni yakni mereka secara psikologis memiliki mental yang rapuh/tidak tegar. Karenanya, pulasit rentan menyerang mereka-mereka yang sedang mengalami depresi, tekanan batin, dirundung masalah, dan sebagainya. Mereka yang kena pulasit sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kapidaraan yang dialami oleh kanak-kanak, bedanya hanya pada dampaknya. Mereka yang terkena pulasit akan berakibat tidak sadar diri (pingsan), mengigau atau maranyaw, dan yang lebih parah lagi adalah kesurupan (mengamuk). Menurut Alfani Daud (1997: 556), hantu pulasit dicurigai pula sebagai penyebab sakit sawan dan karungkup pada bayi atau anak-anak.

[11]Kasurupan atau kerasukan adalah orang yang terkena gangguan atau dirasuki oleh roh halus atau jin jahat sehingga yang bersangkutan tidak sadar diri; berteriak-teriak; mengamuk; atau pula berbicara sendiri dan meminta apa yang dikehendakinya (Zulfa Jamalie, 2008).

[12]Ditabun hantu maksudnya disembunyikan, disesatkan, atau dibawa ke alam gaib oleh makhluk halus. Dalam tradisi dan mitos masyarakat Banjar, orang yang ditabun (disembunyikan) atau tersesat di dunia makhluk gaib harus dipanggil pulang dengan cara memukul alat penampi beras (nyiru) yang terbuat dari kulit batang bambu atau kulit batang bamban (sejenis tumbuhan), disebut dengan istilah bagandang nyiru.

[13]Pada saat sekarang ini juga berkembang teknik pengobatan terhadap penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari makhluk gaib, setan atau jin jahat yang dinamakan dengan istilah ruqyah syariyyah. Yakni pengobatan dengan menggunakan pendekatan atau bacaan-bacaan yang bersumberkan daripada Alquran dan Hadis dengan mengikut perilaku pengobatan yang telah dicontohkan oleh Nabi Saw dan sahabat.

[14]Sebagaimana dikatakan oleh Sunarti (1978: 7), pada masyarakat Banjar masa dulu, ada 10 kelompok penutur yang berfungsi sebagai komunikator sekaligus memiliki peran strategis berkaitan dengan aktivitas dan ritual budaya atau kesenian tradisional masyarakat Banjar, salah satu di antaranya adalah pananamba atau tabib. Di samping pananamba, kelompok yang lainnya adalah: (1) Palamutan, seorang tukang cerita yang khusus mempunyai kemampuan menyajikan kisah lamut, palamutan menguasai jalan cerita, cara penyampaian dan improvisasi-improvisasi yang menarik; (2) Pamadihinan, ialah penutur khusus yang menyampaikan bentuk puisi, syair atau pantun madihin; (3) Panyairan, yakni penutur khusus puisi syair, sekaligus penyampaian cerita dalam bentuk syair (4) Paaliran, atau yang dikenal sebagai pawang buaya, mereka secara khusus menguasai mantra-mantra untuk berburu dan menangkap buaya; (5) Pamandaan, adalah seorang penutur cerita sekaligus menjadi pelaku dalam pertunjukan mamanda; (6) Pajapinan, ialah penutur pantun-pantun, lagu japen dan sering pula membawakan tari japen; (7) Tukang kisah, merupakan penutur cerita rakyat yang mempunyai banyak per-bendaharaan kisah yang banyak; (8) Dadalang, sama dengan dalam pengertian umum, yaitu seorang laki-laki penutur cerita wayang kulit Banjar, mereka bisanya menguasai bahasa Jawa kuno dan bahasa Banjar dengan baik; (9) Gandut, yakni tokoh perempuan yang khusus membawakan lagu-lagu dari bait-bait atau syair pantun erotis dalam pertunjukkan bagagandutan (sejenis ledek, tayub, ronggeng di Jawa).

[15]Mana adalah sebuah kekuatan gaib, kekuatan batin yang rahasianya tidak diketahui, bersifat personal dan misterius, yang melekat pada suatu benda atau dimiliki seseorang yang dianggap luar biasa, sehingga dengan kekuatan gaib tersebut orang Banjar biasanya memposisikan diri mereka sebagai seorang pananamba. Menurut Harun Nasution (1975: 24), mana memiliki lima sifat: (1) Mana mempunyai kekuatan, (2) Mana tidak dapat dilihat, (3) Mana tidak mempunyai tempat yang tetap, (4) Mana pada dasarnya tidak mesti baik dan tidak pula mesti jahat, dan (5) Mana terkadang dapat dikontrol terkadang tidak dapat dikontrol. Aslam Hady (1986: 35-36) menyatakan bahwa sebagai kekuatan gaib, mana bisa terdapat pada orang atau benda-benda tertentu, misalnya; mana dimiliki oleh orang-orang yang luar biasa, seperti imam, orang suci, dukun, raja-raja dan benda-benda yang mereka miliki (pakai); mana terdapat pada bagian badan manusia yang tumbuh dengan cepat, seperti rambut, kuku, jantung dan hati; mana ada pada tumbuh-tumbuhan dan binatang yang luar biasa, seperti harimau (kumis harimau), babi (rantai babi), beruang (kuku beruang); mana ada pada api dan segala sesuatu yang berhubungan dengan api, dan lain-lain.

[16]Gampiran adalah roh-roh dari alam gaib yang memasuki, merasuki, bersatu dengan roh manusia (orang yang digampiri); digampiri berarti dimasuki, dirasuki, atau disusupi oleh roh halus yang berasal dari alam gaib (Djebar Hapip, 2006: 39). Karena itu, dalam konteks ini gampir bukanlah berarti merekat, berdempet, atau bersatunya (kembar) suatu benda secara fisik seperti yang umum terjadi pada buah (misalnya buah pisang gampir). Tetapi, bagampiran adalah persatuan atau perpaduan secara rohani antara dua roh yang berbeda; roh manusia yang hidup di alam nyata (dunia) dan roh makhluk halus yang hidup di alam gaib dan bersifat metafisik. Bagampiran, walaupun secara rasional-ilmiah agak sulit dibuktikan, namun dalam kehidupan masyarakat Banjar, bagampiran adalah sesuatu yang realitas, bersifat personal dan magis, diakui dan dipercayai oleh masyarakat luas, karena dialami oleh orang-orang tertentu. (Zulfa Jamalie, 2008).

[17]Balampah artinya mengerjakan amalan tertentu, pada waktu tertentu, dengan tujuan tertentu, dan dengan syarat dan pantangan yang tertentu pula (Alfani Daud, 1997).

[18]Dalam siklus kehidupan orang Dayak di Kalimantan tokoh yang memiliki kedudukan dan fungsi kurang lebih sama dengan pananamba (dalam hal pengobatan) adalah balian. Sebelum orang Dayak mengenal dunia kedokteran, balian adalah tempat orang meminta pertolongan saat sakit; sakit demam, sakit perut, terlebih sakit yang disebabkan oleh pengaruh gaib atau roh jahat. Karena itu, kehadiran seorang balian sangat dibutuhkan oleh masyarakat adat suku Dayak (Damianus Siyok, Erma S. Ranik, Thomas Tion, Tony Kusmiran, 2002).

[19]Dalam al-Israa 82 misalnya dinyatakan: Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

[20]Secara umum, masyarakat Banjar juga menganggap bahwa makhluk gaib, hantu dan sejenisnya takut dengan simbol cacak burung, yang berbentuk seperti tanda tambah tetapi agak panjang sedikit. Simbol ini biasanya terdapat pada rumah Banjar tradisional dan dipakai untuk menandai rumah yang baru dibangun. Biasanya dituliskan pada bagian dinding, tiang empat sudut, pintu atau kaca jendela rumah. Bahkan, Simbol ini juga dituliskan oleh seorang pananamba ketika mengobati seorang anak atau balita yang kapidaraan. Tanda cacak burung tersebut seolah-olah seperti tanda pemisah antara alam nyata dan alam gaib. Tampaknya, dengan melihat tanda tersebut, orang-orang gaib diberitahu untuk maklum dan tidak mengganggu.

[21]Ukiran kedua motif ini biasanya terdapat pada rumah tradisional Banjar (misalnya tipe Rumah Bubungan Tinggi) dan berfungsi sebagai penolak bala. Sedangkan motif daun jaruju terdapat pada pilis (lisplank) sedangkan motif banaspati (kala) terdapat pada dahi lawang (pintu) rumah Banjar (Wajidi, 2010).

[22]Jimat berupa benda yang dibuat menurut aturan tertentu, baik kertasnya, tintanya, waktu mengerjakannya, lama pembuatannya, teknik dan ayat-ayat yang ditulis dalam bentuk lambang angka atau kalimatkalimat tertentu. Alat tempat menulis bisa kertas biasa, kain tutup muka mayat, kain ihram, lapisan perak atau emas atau sebagainya. Sedangkan tintanya mungkin tinta cina, darah orang mati dibunuh, dan sebagainya, sedangkan waktu yang ada yang sampai 40 hari Jumat dan selalu dalam keadaan suci, semua itu tergantung pada jenis jimat yang dibuat. Umpamanya jimat untuk penolak bala, pekasih, pembenci untuk merusak rumah tangga orang, pelaris dagangan, sebagai senjata umpamanya cemeti Ali, penjaga keamanan rumah, kebun, dan lain-lain. Jimatjimat ini bisa berbentuk segi empat, bundar, pipih, dan sebagainya tergantung dari bahan apa jimat tersebut dibuat. Apabila dipakai di badan umumnya dikunci supaya tidak ruah (kesaktian/kekuatan/tenaganya hilang) bila memasuki tempat buang hajat dan sebagainya. Jimatjimat yang dibuat menggunakan angkaangka, lambanglambang rajah dan ayatayat Alquran. Jimat-jimat ini disebut wafak, setiap barang yang berwafak maka kekuatannya akan bertambah, mewafak adalah merupakan ilmu tersendiri. Jimat-jimat lain yang berasal dari jenis tumbuh-tumbuhan, binatang, tanah, logam seperti wasi kuning (kuningan-perunggu), dan sebagainya. Kumpulan jimat yang serupa ini yang dipakai untuk melindungi diri dari bencana, membuat seseorang kebal, dan atau ditakuti. Ada juga jimat yang besar selilit pinggang yang disebut dengan babatsal (Deni Arisandi, 2009).

[23]Babatsal adalah jimat atau wafak yang terbungkus dari kain yang bisanya diikatkan di pinggang atau anggota tubuh yang lain.

[24]Kain Sasirangan adalah kain khas orang Banjar semacam Batik bagi orang Jawa, Songket bagi orang Palembang, Tapis bagi orang Lampung, atau Ulos bagi orang Batak, di mana dalam konteks pengobatan, kain Sasirangan berfungsi magis. Menurut Tajuddin Noor Ganie (2009) kain Sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnis Banjar di Kalimantan Selatan. Kain Sasirangan sudah ada sejak zaman Kerajaan Dipa (Kerajaan Banjar Hindu) di Amuntai-Kalimantan Selatan, yaitu sekitar abad ke-15 M. Menurut cerita masyarakat Banjar, kain Sasirangan yang pertama dibuat pada masa kerajaan Negara Dipa. Pada mulanya kain Sasirangan disebut dengan kain Langgundi, yaitu kain tenun yang berwarna kuning dan digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian harian seluruh warga Kerajaan Dipa. Namun, karena kemudian kain Langgundi dipakai oleh Putri Junjung Buih (Ratu Kerajaan Dipa), maka ia dianggap sakral. Karena itu, kain ini kemudian tidak dipakai secara umum lagi, tetapi digunakan untuk pengobatan terhadap penyakit yang bersifat magis, misalnya sakit kapingitan, yaitu sakit yang disebabkan oleh roh halus, sakit perut, sakit kepala, bisul, sawan, badan panas dingin, sehingga kemudian namanya berubah menjadi kain Sasirangan. Berikutnya, dalam konteks pengobatan ini pula kain Sasirangan yang digunakan sebagai prasyarat disebut dengan kain pamintaan (permintaan), yakni selembar kain putih yang diberi warna dan motif tertentu atas permintaan orang yang berobat (sesuat petunjuk pananamba) kepada seorang pembuat kain Sasirangan (Syamsiar Seman, 2005; Tajuddin Noor Ganie, 2009).

[25]Pada waktu dulu, tali ijuk umum digunakan oleh orang Banjar sebagai tali ayunan atau pula sebagai syarat rumah, penghalat, dan pembatas tanah atau wilayah, hal ini dimungkinkan karena kepercayaan terhadap nilai-nilai magis yang terkandung di dalamnya. Selain itu, bagi masyarakat Banjar (terutama mereka yang berasal dari Kampung Muning-Rantau) tali ijuk adalah simbol perlindungan agar makhluk halus atau makhluk gaib tidak mengganggu mereka sesuai dengan pesan dari Datu Niang Thalib yang menjadi penguasa (raja) alam gaib Pulau Kadap, sebagaimana cerita lisan (folklore) yang beredar di masyarakat (Sunarti, 1978; Marwan, 2001).

[26]Benang hitam umum dipakai oleh wanita yang sedang hamil pada pergelangan kakinya dan dipakaikan pula menjadi gelang (terkadang dengan uang logam kuno sebagai bandulnya) pada anak-anak dengan tujuan agar mereka terhindar dari gangguan makhluk jahat.

[27]Makhluk gaib yang diyakini takut dengan bawang terutama bawang merah tunggal adalah hantu pulasit dan kuyang. Kuyang adalah hantu perempuan yang pada dasarnya adalah manusia biasa, akan tetapi karena sebab atau ilmu tertentu ia kemudian berubah wujud menjadi hantu dan pada waktu-waktu tertentu terbang untuk mencari makan, yakni darah atau bayi yang baru dilahirkan. Konon tujuannya menjadi kuyang adalah untuk awet muda dan keabadian hidup (panjang umur), karena meminum darah segar bayi. Karena itu ia hidup di dua alam, di alam hantu dan di alam manusia. Siang seperti manusia pada umumnya dan malam berubah menjadi hantu yang menakutkan. Orang-orang di Bali menyebut kuyang dengan sebutan leak, orang Sulawesi Tengah menyebutnya popo, orang Sulawesi Selatan menyebutnya parakang, orang Sumatera menyebutnya palasik, orang Malaysia menyebutnya hantu penanggalan, balan-balan (Sabah), atau tengelong (Kedah). Dalam masyarakat Suku Dayak Benuaq (Kalimantan Barat) ada sebuah tarian, yakni tarian Balian atau tarian pengobatan yang dinamakan dengan Tarian Kuyang. Tarian ini ditujukan untuk mengusir hantu-hantu penjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang akan menebang pohon tersebut (Zulfa Jamalie, 2008).

[28]Orang Banjar juga meyakini bahwa kuyang adalah makhluk jadian yang takut dengan cermin, sisir, pisau, rumput jariangau, bilaran, tali ijuk, kain kuning, dan buku Yaasin. Itulah sebabnya, menjadi tradisi dalam masyarakat Banjar untuk meletakkan benda-benda tersebut didekat seorang perempuan yang baru melahirkan dan atau bayi yang baru dilahirkannya, agar terhindar dari gangguan kuyang. Karena itu, Diasumsikan bahwa buku Yaasin yang diikatkan, tali ijuk, kain kuning, atau pun bayi yang dipukung (dibedong, sehingga menutup bagian leher dan hanya kelihatan bagian wajah-kepala) dimaksudkan untuk mencegah dan menghindari gangguan kuyang atau makhluk-makhluk halus. Khusus untuk tali ijuk, oleh orang Banjar terkadang juga dijadikan sebagai pembatas tanah, pagar, dinding atau penghalat rumah, yakni dengan mengikatkan tali ijuk tersebut di sekeliling bagian atas (plafon) rumah (Zulfa Jamalie, 2008).

[29]Sejenis ilmu hitam berupa santet, teluh, atau guna-guna khas Kalimantan.

[30]Upacara aruh ganal biasanya dilaksanakan oleh orang-orang Dayak Kaharingan yang bermukim di sekitar pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan). Acara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan atau tugalan (sawah kering/ladang) tumbuh subur dan menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan aruh ganal di balai (bangunan besar yang dikhususkan sebagai tempat untuk berkumpul guna melakukan ritual-ritual tertentu), yang diisi oleh pembacaan mamangan (mantra) dari para balian (tokoh agama dari kepercayaan Dayak Kaharingan).

[31]Upacara manyanggar banua adalah semacam upacara bersih desa atau kampung, maksudnya agar desa selamat dari marabahaya dan penduduknya mendapat kesejahteraan (kemakmuran). Upacara ini dilaksanakan oleh sekelompok orang dari penduduk desa Barikin (Kabupaten Hulu Sungai Tengah-Barabai) yang merasa sebagai tutus (keturunan) dari tokoh penyebab timbulnya upacara ini, yaitu Datuk Taruna dan istrinya, Mayang Sari.

[32]Upacara mambuang pasilih merupakan semacam upacara memberi sesaji kepada roh halus (roh nenek moyang) dengan maksud agar mendapat bantuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam menyembuhkan penyakit, membawa keselamatan, menghilangkan sial, dan mengabulkan segala permintaan. Komunikasi dengan roh tersebut dilakukan melalui seseorang balian (dukun) yang kesurupan, karena dimasuki oleh roh halus tersebut dalam jasadnya, sehingga bisa berbicara (bamamang) dengan mereka untuk mengetahui segala permintaan yang disampaikan oleh roh halus tersebut. Permintaan roh itu dipenuhi dengan sesaji yang telah disajikan melalui upacara tertentu.

[33]Di samping digunakan oleh masyarakat Banjar untuk menyebut orang gaib yang menjadi penghuni atau penunggu tempat-tempat tertentu sebagai tanda atau panggilan penghormatan, kata Datu juga dipakai untuk menyebutkan seorang tokoh yang disegani karena ketinggian ilmunya, keulamaannya, kekuatan magis dan supranatural yang dimilikinya, dan atau kedudukan sosialnya yang tinggi (Humaidy, 2003).

[34]Dalam Masyarakat Banjar, penulis dapatkan informasi bahwa selain membaca bismillah dan shalawat, umat Islam juga dianjurkan untuk membaca 7 ayat keselamatan (7 salam) agar terhindar dari segala gangguan makhluk gaib (dalam konteks ini disebut hantu karena sifatnya yang jahat dan mengganggu). Adapun ayat yang dimaksud sebagai ayat keselamatan tersebut adalah ayat-ayat Alquran yang menyatakan tentang salaam atau keselamatan, kesejahteraan, kedamaian, sebagaimana yang tercantum dalam: QS. Maryam 33: Dan kesejahteraan semoga dilimpah-kan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. QS. Yaasin 58: (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. QS. Ash-Shaffat 79: “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. QS. Ash-Shaffat 109: (yaitu) “Kesejahteraan dilimpah-kan atas Ibrahim”. QS. Ash-Shaffat 120: (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”. QS. Ash-Shaffat 130: (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas”. QS. Ash-Shaffat 181: Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post