Nur Muhammad

10 Apr 2012

Bagian Pertama

KAJIAN NUR NUHAMMAD DI NUSANTARA

Oleh Zulfa Jamalie

(Pengurus Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. An-Nuur 35).

Dalam dunia tasawuf, salah satu konsep yang selalu menarik dan aktual untuk dibicarakan adalah wacana tentang Nur Muhammad. Konsep ini telah menjadi kajian penting seiring dengan kedatangan dan perkembangan Islam di Bumi Nusantara, telah dibincangkan dalam berbagai konteksnya, dan menarik perhatian umat sehingga sekarang.

Nur Muhammad adalah sebuah hikayat yang menceritakan tentang Nur Muhammad sebagai awal penciptaan semesta. Sebutan Nur Muhamad sendiri pada mulanya diperkenalkan pada abad ke-9 oleh Ibn Ishaq, penulis riwayat Nabi Muhamad paling awal. Selanjutnya, pada abad ke-10 M konsep itu dipopulerkan oleh sufi terkemuka Sahl al-Tustari. Paham tentang Nur Muhammad juga dikemukakan seorang tokoh sufi kontroversial, Al-Hallaj dan merupakan untaian dari tiga ajaran utamanya yaitu hulul dan wahdatul adyan. Menurutnya Nur Muhammad merupakan jalan hidayah (petunjuk) dari semua Nabi, karena itu agama yang dibawa oleh para nabi pada prinsipnya sama. Apalagi dalam keyakinan Al-Hallaj, semua Nabi merupakan emanasi wujud sebagaimana terumus dalam teori hulul-nya.

Teori Nur Muhammad ini kemudian diteruskan oleh Ibnu Arabi (638H/240M) dalam karyanya al-Futuhat al-Makiyyah dan Fusush al-Hikam; namun sebelum karya besarnya itu lahir, gagasan tentang Nur Muhammad itu sendiri telah dituangkannya dalam risalah kecil yang berjudul Syajarat al-Kaun. Bagi Ibnu Arabi, Nur Muhamad merupakan asal-usul kejadian semua makhluk yang hidup dan sumber yang terpancar daripada ilmu para Nabi dan wali. Dengan kata lain Nur Muhamad ialah roh yang nyata dengan rupa para Nabi dan wali sejak Nabi Adam as diutus hingga Nabi Muhamad Saw dan sejak wujud Martabat al-Wilayah atau kenabian dalam pemikiran Sufi. Ilmu para nabi dan wali adalah suatu pancaran dari Nur Muhammad yang merupakan induk kepada segala yang wujud. Ide ini akhirnya disistemasikan dan ditegaskan oleh Abdul Karim al-Jili (832 H) dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’arifah al-Awa’il wa al-Awakhir. Dia menghubungkannya dengan konsep manusia sempurna (insan kamil).

Di Nusantara, ide dan paham Nur Muhammad masuk dan meluas di kalangan sufi Melayu sejalan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Karena itu, timbulnya gagasan Nur Muhammad di dalam dunia Melayu sebagaimana dikatakan Nur Fawzan Ahmad (2009) tak bisa dilepaskan dari sejarah awal masuk dan berkembangnya Islam diseluruh wilayah kepulauan Nusantara.

Dalam versi Melayu hikayat Nur Muhammad di samping ditulis secara langsung, biasanya juga dimasukkan sebagai pendahuluan karya bercorak sejarah sepertiBustan al-Salatin karangan Nuruddin al-Raniri,Hikayat Anbiya danTambo Minangkabau. Versi terkenal dari hikayat ini ialah gubahan Syekh Syamsudin Sumatrani pada tahun 1646 M dengan judulTarikh Mukhtasar (Ringkasan Sejarah), yang disadur dari naskah ParsiRawdat al-Anbah (Syurga Para Kekasih) karangan Husaini pada tahun 1495 M. Salinan terbaru ialah karangan Ki Agus Haji Khatib Thaha dari Palembang yang ditulis pada tahun 1856. Dalam bentuk puisi, hikayat ini muncul dalam syair-syair tasawuf karangan Hamzah Fansuri pada abad ke-16 M.

Ketertarikan dan perhatian yang besar terhadap perbincangan mengenai Nur Muhammad oleh ulama Nusantara setidaknya bisa dibutiri dari tiga hal berikut:

Pertama, terlihat dari banyaknya salinan yang beredar pada masa itu berkenaan dengan Hikayat Nur Muhammad Misalnya, Hikayat Nur Muhammad naskah Betawi yang disalin pada tahun 1668 M oleh Syekh Ahmad Syamsuddin. Menurut Ali Ahmad (2005) sehingga sekarang, sekurang-kurangnya terdapat tujuh versi Hikayat Nur Muhammad. Salah satu naskah (manuskrip) tentang Nur Muhammad dimaksud tersimpan dengan rapi dan menjadi Koleksi Naskah Musium Pusat Jakarta dengan kode Ml.378C (Nur Fawzan Ahmad, 2009).

Kedua, apresiasi terhadap konsep Nur Muhammad telah mendorong lahirnya karya klasik ulama Nusantara yang secara khusus berisikan pembahasan tentang teori ini. Antaranya adalah kitab Asrar al-Insan fi Makrifah al-Ruh wa al-Rahman karya Nuruddin al-Raniri (Aceh), tiga kitab karangan Hamzah Fansuri (Barus-Aceh); Asrar al-Arifin, Syarab al-Asyiqin, dan al-Muntahi, serta Nur al-Daqaiq oleh Syamsuddin al-Sumaterani (Pasai). Dalam kitab Asrar al-Insan dijelaskan bahwa Allah menjadikan Nur Muhammad dari tajalli (manifestasi) sifat Jamal-Nya dan Jalal-Nya, maka jadilah Nur Muhammad itu khalifah di langit dan di bumi; Nur Muhammad adalah asal segala kejadian di langit dan di bumi. Di dalam kitab Asrar al-Arifin dibincangkan teori wahdat al-wujud yang semula diperkenalkan oleh Abdullah Arif dalam Bahr al-Lahut dan Ibnu Arabi, kemudian dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri melalui teori Martabat Tujuh dalam kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kemudian, dalam al-Muntahi, Hamzah menyatakan bahwa wujud itu satu yaitu wujud Allah yang mutlak. Wujud itu bertajalli dalam dua martabat; ahadiyah dan wahidiyah. Dalam kitab Nur al-Daqaiq juga dibahas tentang wujudiyah dan martabat tujuh.

Variasi teori Nur Muhammad dalam bentuk martabat tujuh boleh didapati pembahasannya dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Melayu Nusantara, antara lain dibahas dalam kitab Siyarus Salikin yang dikarang oleh Syekh Abdul Shamad al-Palimbani; kitab Manhalus Syafi (Uthman el-Muhammady, 2003) yang dikarang oleh Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani; Pengenalan terhadap Ajaran Martabat Tujuh yang dikarang atau dinukilkan kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Jawa Barat); dan kitab al-Durr al-Nafis yang di karang oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari. Oleh itu, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dengan kitabnya Al-Durr al-Nafis sebagaimana ditegaskan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah (2000) merupakan salah seorang ulama Banjar penganjur ajaran tasawuf Martabat Tujuh di Nusantara (khususnya di Banjarmasin). Hal yang sama juga dikemukakan oleh K.H. Haderanie HN (Ulama Puruk Cahu-Teweh) bahwa Syekh Muhammad Nafis al-Banjari adalah salah seorang ulama Banjar yang meyakini ajaran tentang Nur Muhammad yang beliau terima dari salah seorang gurunya, bernama Syekh Siddiq Amir Khan.

Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan dan pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu berubah, memudar, dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha mengungkap hakikat dirinya agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk mengungkap hakikat dirinya, manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang hanya dapat dilihat dengan mata hati yang ada dalam sanubarinya. Seperangkat pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu marifatullah. Ilmu marifatullah merupakan suatu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah. Ilmu marifatullah terbahagi menjadi dua macam, yaitu ilmu makrifat tanzih (transeden) dan ilmu makrifat tasybih (imanen). Tuhan menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut martabat tanzih (la taayyun atau martabat tidak nyata, tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut martabat tasybih (taayyun atau martabat nyata, terinderawi). Yakni, martabat Ahadiyyah (ke-ada-an Zat yang Esa); martabat Ahadiyyah (ke-ada-an Zat yang Esa); martabat Wahidiyyah (ke-ada-an asma yang meliputi hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam (alam benda); dan martabat Alam Insan.

Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan, tetapi melalui emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat tanzih (transenden atau la taayyun atau martabat tidak nyata) dengan martabat tasybih (imanen atau taayyun atau martabat nyata) secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama. Seorang Salik yang telah mengetahui kedua ilmu marifatullah, baik Marifah Tanzih (ilmu yang tak terinderawi) maupun Marifah Tasybih (ilmu yang terinderawi), ia akan sampai pada tataran tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau dikenal dengan sebutan Wahdatul-Wujud. Uraian tersebut dapat dianalogikan dengan air laut dan ombak. Air laut dan ombak secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air laut sehingga keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah.

Ketiga, di Nusantara, Hikayat Nur Muhammad merupakan teks yang populer sekitar abad ke-14 M. Ini dibuktikan dengan tersebar luasnya kitab yang berjudul Tarjamah Maulid al-Mustafa bertahun 1351 M (Ali Ahmad, 2005), dan disinggungnya wacana ini dalam kitab Taj al-Muluk, Qishah al-Anbiya, Bustan al-Salatin, atau Hikayat Muhammad Ali Hanafiah, kemudian secara khusus dibahas oleh sufi-sufi Nusantara seperti Hamzah Fansuri dalam kitabnya Asrar al-Arifin fi Bayanil-Ilmis-Suluki wat-Tawhid, Syarbul Asyiqin, Zinatul-Muwahiddin; Syekh Nuruddin al-Raniry dalam kitabnya Asrar al-Insan fi Marifatir Ruh war-Rahman dan Jawahirul-Ulum fi Kasyfil-Malum, Akhbarul-Akhirat fil-Ahwalil-Qiyamah, Syekh Syamsuddin al-Banjari dalam kitabnya Kejadian Nur Muhammad, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fatani dalam kitabnya Akhbarul-Akhirat fi Ahwalil-Qiyamat dan Al-Kaukabud-Durri fin-Nuril-Muhammadi, Zainal-Abidin al-Fatani dalam kitabnya Kashful-Ghaibiyyah, Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Madarijus-Suud, dan lain-lain. Selain itu, menurut Fauzan Ahmad (2010) tercatat sekitar 45 kitab tasawuf dan tauhid ulama Melayu yang menyinggung dan membicarakan Nur Muhammad ini. Karya-karya itu menunjukkan betapa luasnya persebaran tema dan perbincangan tentang Nur Muhammad.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post